Investasi Juga untuk Buruh

Kompas.com - 07/11/2012, 06:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Investasi harus memberikan keuntungan bukan saja bagi pengusaha, melainkan juga bagi buruh. Perusahaan harus menyejahterakan buruh. Di sisi lain, tindakan intimidasi dan perilaku merusak yang dilakukan buruh harus dicegah.

Demikian disampaikan Wakil Presiden Boediono dalam pidato kunci acara Indonesia Investment Summit, di Jakarta, Selasa (6/11). Hadir dalam kesempatan itu sekitar 500 investor dari sejumlah negara, seperti Uni Emirat Arab, negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Singapura.

Dalam pidatonya, Boediono pertama-tama memaparkan daya tarik investasi di Indonesia, mulai standar ekonomi makro yang sehat, struktur populasi yang produktif, konsumsi domestik yang berkembang pesat berkat tumbuhnya kelas menengah, sampai sumber daya alam melimpah. Kemudian ia menyampaikan sejumlah persoalan, seperti kepastian hukum dan inefisiensi akibat minimnya infrastruktur. Selanjutnya ia menekankan isu sumber daya manusia (SDM).

Boediono menyatakan, peningkatan kesejahteraan buruh adalah salah satu prioritas utama pemerintah. Namun, segala bentuk intimidasi dan perilaku merusak yang ditimbulkan dari gerakan buruh harus dihindari. Caranya, menegakkan hukum.

”Isu lain yang terkait SDM adalah soal pelatihan agar buruh memiliki kemampuan memadai. Itu adalah kunci pertumbuhan,” kata Boediono.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M Chatib Basri dalam keterangan pers menyatakan, berdasarkan pertemuan dengan para investor, upah minimum buruh tidak menjadi persoalan. Hal yang dirisaukan investor adalah gerakan buruh yang sudah mengarah pada tindakan anarkistis dan merusak.

”Sejauh ini, memang saya mesti katakan dampaknya terhadap investasi belum ada. Tapi bukan berarti dengan begitu bisa dijustifikasi,” kata Chatib.

M Chatib Basri menyatakan, investasi masih kuat di triwulan III-2012, yakni tumbuh 10,02 persen. Namun, tingkat pertumbuhannya tidak setinggi pertumbuhan dari triwulan I ke triwulan II.

Hal ini sejalan dengan impor barang modal yang mulai sedikit melambat pertumbuhannya. Januari-Agustus, pertumbuhannya 24 persen. Januari-Juli, pertumbuhannya 28 persen. ”Artinya, ada gejala realisasi penanaman modal asing mulai melandai,” kata Chatib.

Menanggapi target pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 6,8 persen, Chatib optimistis investasi sampai triwulan I-2013 masih kuat. Hal yang dikhawatirkan adalah ekspor, yang pertumbuhannya pada triwulan III-2012 sudah minus 2,7 persen. Sementara konsumsi domestik melambat dari 6 persen ke 5,6 persen.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Salsiah Alisjahbana dalam keterangan pers di Jakarta menyatakan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 6,3-6,5 persen.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, Armida melanjutkan, realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I-III 2012 sebesar 6,29 persen. Artinya, realisasi sampai akhir tahun tinggal menunggu kinerja satu triwulan lagi.

Masih sehat

Sementara itu pertumbuhan ekonomi Indonesia per triwulan III-2012, yang mencapai 6,17 persen, memang lebih rendah dari perkiraan semula. Akan tetapi, kondisi ekonomi relatif masih sehat, bahkan terhitung kuat.

Ekonom Danamon, Dian Ayu Yustina, menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2012 diperkirakan 6,2 persen per tahun. ”Sedikit di bawah titik tengah perkiraan Bank Indonesia, yang berkisar 6,1-6,5 persen pada tahun ini,” kata Dian di Jakarta.

Peran investasi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berlanjut pada triwulan III-2012 sebesar 10 persen dibandingkan dengan triwulan III-2011 mengonfirmasi data BKPM bahwa realisasi investasi rendah, tetapi tumbuh perlahan.

(LAS/ATO/IDR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau