Demikian disampaikan Wakil Presiden Boediono dalam pidato kunci acara Indonesia Investment Summit, di Jakarta, Selasa (6/11). Hadir dalam kesempatan itu sekitar 500 investor dari sejumlah negara, seperti Uni Emirat Arab, negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Singapura.
Dalam pidatonya, Boediono pertama-tama memaparkan daya tarik investasi di Indonesia, mulai standar ekonomi makro yang sehat, struktur populasi yang produktif, konsumsi domestik yang berkembang pesat berkat tumbuhnya kelas menengah, sampai sumber daya alam melimpah. Kemudian ia menyampaikan sejumlah persoalan, seperti kepastian hukum dan inefisiensi akibat minimnya infrastruktur. Selanjutnya ia menekankan isu sumber daya manusia (SDM).
Boediono menyatakan, peningkatan kesejahteraan buruh adalah salah satu prioritas utama pemerintah. Namun, segala bentuk intimidasi dan perilaku merusak yang ditimbulkan dari gerakan buruh harus dihindari. Caranya, menegakkan hukum.
”Isu lain yang terkait SDM adalah soal pelatihan agar buruh memiliki kemampuan memadai. Itu adalah kunci pertumbuhan,” kata Boediono.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M Chatib Basri dalam keterangan pers menyatakan, berdasarkan pertemuan dengan para investor, upah minimum buruh tidak menjadi persoalan. Hal yang dirisaukan investor adalah gerakan buruh yang sudah mengarah pada tindakan anarkistis dan merusak.
”Sejauh ini, memang saya mesti katakan dampaknya terhadap investasi belum ada. Tapi bukan berarti dengan begitu bisa dijustifikasi,” kata Chatib.
M Chatib Basri menyatakan, investasi masih kuat di triwulan III-2012, yakni tumbuh 10,02 persen. Namun, tingkat pertumbuhannya tidak setinggi pertumbuhan dari triwulan I ke triwulan II.
Hal ini sejalan dengan impor barang modal yang mulai sedikit melambat pertumbuhannya. Januari-Agustus, pertumbuhannya 24 persen. Januari-Juli, pertumbuhannya 28 persen. ”Artinya, ada gejala realisasi penanaman modal asing mulai melandai,” kata Chatib.
Menanggapi target pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 6,8 persen, Chatib optimistis investasi sampai triwulan I-2013 masih kuat. Hal yang dikhawatirkan adalah ekspor, yang pertumbuhannya pada triwulan III-2012 sudah minus 2,7 persen. Sementara konsumsi domestik melambat dari 6 persen ke 5,6 persen.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Salsiah Alisjahbana dalam keterangan pers di Jakarta menyatakan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 6,3-6,5 persen.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, Armida melanjutkan, realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I-III 2012 sebesar 6,29 persen. Artinya, realisasi sampai akhir tahun tinggal menunggu kinerja satu triwulan lagi.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi Indonesia per triwulan III-2012, yang mencapai 6,17 persen, memang lebih rendah dari perkiraan semula. Akan tetapi, kondisi ekonomi relatif masih sehat, bahkan terhitung kuat.
Ekonom Danamon, Dian Ayu Yustina, menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2012 diperkirakan 6,2 persen per tahun. ”Sedikit di bawah titik tengah perkiraan Bank Indonesia, yang berkisar 6,1-6,5 persen pada tahun ini,” kata Dian di Jakarta.
Peran investasi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berlanjut pada triwulan III-2012 sebesar 10 persen dibandingkan dengan triwulan III-2011 mengonfirmasi data BKPM bahwa realisasi investasi rendah, tetapi tumbuh perlahan.