Melihat Air Terjun Bunga Kokota di Morotai

Kompas.com - 07/11/2012, 09:27 WIB

MOROTAI, KOMPAS.com — Puluhan tahun silam, lokasi air terjun di bagian timur Pulau Morotai, Maluku Utara, hanya sebuah aliran sungai biasa yang sedikit deras, yang di dalamnya terdapat air terjun. Kini, sebuah keluarga besar di Desa Mira, Kecamatan Morotai Timur, mau mengembangkannya sebagai lokasi wisata air terjun yang dinamai Bunga Kokota.

Air Terjun Bunga Kokota terletak di lereng Gunung Bakulu, tepatnya di bagian Timur Pulau Morotai. Lokasi wisata ini memang belum bisa menyaingi lokasi wisata air terjun lainnya di Nusantara. Namun, air terjun Bunga Kokota memiliki keindahan alam sekitar yang tak kalah cantik.

Lingkungan sekitarnya masih sangat alami, lantaran belum tersentuh kerusakan akibat ulah manusia. Air yang berjatuhan dari ketinggian bebatuan nan ganas pun sangat menyegarkan. Para pelancong yang pernah mengunjungi Air Terjun Bunga Kokota itu terlena dengan suasana alam di lokasi ini.

"Pokoknya puas kalau menghabiskan waktu luang di air terjun itu. Alamnya sangat cocok bagi para petualangan. Airnya pun tidak terlalu dingin seperti air terjun lainnya. Pokoknya puaslah," aku Iwan Muraji (28), warga Kota Tidore Kepulauan, yang pernah berkunjung ke sana.

Awalnya, air terjun Bunga Kokota ini hanya dikenal warga sekitar sebagai air yang jatuh dari ketinggian. Karenanya, diberikan nama Kokota (bahasa daerah setempat) yang artinya air yang jatuh. Bepuluh tahun warga sekitar hanya memanfaatkannya sebagai tempat mencuci. Itu pun bukan dilakukan di lokasi air terjunnya, melainkan di aliran sungai yang sumber airnya berasal dari air terjun tersebut.

Sekitar seratus meter dari lokasi air terjun, tampak beberapa wanita sedang asik mencuci pakaian. Mereka lebih memilih mencuci pakaian di dekat sebuah gorong-gorong yang melintasi jalan lingkar Pulau Morotai. Itu artinya, pelancong yang ingin berkunjung ke lokasi air terjun Bunga Kokota hanya berjalan kaki seratus meter dari jalan utama.

Kita bisa saja menggunakan sepeda motor untuk mencapai lokasi air terjun. Namun, disarankan sebaiknya berjalan kaki dari badan jalan sembari menyusuri sungai, menikmati pemandangan alam yang ada. Lokasi air terjun ini bisa dicapai dari ibu kota Kabupaten Pulau Morotai, Daruba, menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak tempuh lebih kurang satu jam.

Maklum, akses jalan menuju ke sana sudah lumayan menyusul percepatan pembangunan Jalan Lingkar Pulau Morotai yang tengah dilakukan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Sesampainya di kaki Gunung Bakulu, tepatnya di tepi jalan, terpampang sebuah papan nama wisata yang bertuliskan Air Terjun Bunga Kokota.

Papan nama ini tidak dibuat pemerintah, tetapi dibuat sendiri oleh warga setempat. "Kalau mau masuk Rp 5.000 untuk motor," sambut Mirna (31), seorang wanita yang asik menunggu pengunjung air terjun sembari mencuci pakaian, Selasa (6/11/2012).

Mirna lantas menunjuk seorang adiknya, Rudi Kapitan (21), untuk memandu menuju lokasi air terjun itu. Jaraknya pun tidak terlalu jauh, sekitar 100 meter dari jalan utama. Menyusuri sungai melalui setapak kerikil yang sengaja dibuat itu, Rudi banyak menceritakan tentang Air Terjun Bunga Kokota.

Lokasi air terjun ini berada di atas lahan milik Kapitan, almarhum kakeknya. Sejak awal keluarga besar Kapitan tidak menyangka bahwa air terjun itu bisa membawa berkah bagi anak cucunya. "Nanti baru-baru ini banyak orang bermain ke sini, baru kita buat begini," ujar Rudi sambil menunjuk jalanan kecil yang dibuat menyusuri sungai menuju titik air terjun.

Lumayanlah, kata Rudi, dalam seminggu, uang yang berhasil dikumpulkan dari para pengunjung bisa mencapai Rp 500.000. Rudi tidak sendiri mengelola lokasi wisata itu. Dia bersama kerabat dekatnya yang masih keturunan Kapitan berkomitmen mengembangkan lokasi wisata itu sebagai usaha keluarga. Hitung-hitung air terjun itu merupakan harta warisan dari sang kakek, Si Kapitan.

"Dari hasil uang ini, keluarga kami sepakat mau buat jalan setapak dulu biar orang juga lebih suka ke sini," ujarnya.

Lumayan juga, fasilitas yang terkesan alami ini justru melengkapi perjalanan wisata di Air Terjun Bunga Kokota. Ada beberapa spot air terjun yang dapat dijumpai di lokasi ini. Ada yang lebih pendek sekitar 4 meter, ada pula yang lebih tinggi, 15-30 meter. Tiap-tiap titik air terjun ini pun memiliki kolam yang beragam, cocok untuk wisata keluarga karena ada kolam yang dangkal.

Bahkan, ada sebuah titik air terjun yang memiliki gua dengan kedalaman mencapai 4 meter. Pelancong juga bisa menikmati satu per satu air terjun dengan menaiki tebing-tebing bebatuan. Pemilik lahan air terjun ini sudah membuat kemudahan bagi yang ingin menguji nyali menaiki tebing-tebing itu. Ada tangga darurat yang sengaja dibuat, ada pula jalan pintas menuju air terjun paling tinggi dengan tidak menaiki tebing.

"Kalau uang hasil pengunjung sudah kita buat fasilitas penunjang, selanjutnya kami jadikan ini sebagai pendapatan keluarga untuk menyekolahkan anak-anak kami kelak," tandas Rudi. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau