Kemiskinan di Balik Megahnya Properti Hong Kong

Kompas.com - 07/11/2012, 14:17 WIB

KOMPAS.com - Tinggal dalam rumah berukuran kecil dapat meningkatkan efisiensi, kesederhanaan, dan keberlangsungan alam. Beberapa organisasi non-profit dan kantor-kantor berita internasional yang menaruh perhatian besar pada keberlangsungan lingkungan cenderung mendorong penduduk dunia untuk tinggal dalam rumah nyaman, sehat, dan berukuran kecil.

Namun, gerakan menghimbau masyarakat menggunakan rumah-rumah kecil tersebut tampaknya tidak relevan bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dan China. Pada negara-negara berkembang itu, berbagai cara mampu dilakukan oleh penduduknya untuk bertahan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat sisi lain kota-kota besar di Indonesia yang dihiasi oleh bedeng-bedeng semi permanen di sisi sungai atau di kolong-kolong jembatan. Sebagai reaksi atas rumah-rumah tidak layak huni tersebut, saat ini Indonesia, khususnya DKI Jakarta, tengah berusaha mengentaskan persoalan rumah-rumah kumuh tersebut. Setidaknya, tahun ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan 100 RW kumuh di Jakarta akan selesai dibenahi.

Berbeda dengan Indonesia, Reuters, Selasa (6/11/2012), melansir sebuah laporan yang mengungkapkan gaya hidup masyarakat miskin di Hong Kong, China. Mereka tinggal di antara gedung-gedung pencakar langit, sebagian properti-properti termahal di dunia, dan apartemen kelas atas.

Namun, kehidupan mereka tidak dalam suasana glamor Hong Kong. Para penduduk miskin itu justru tinggal di dalam area industri. Mereka menempati ruang-ruang kecil dalam gedung-gedung pabrik yang secara ilegal telah dialihfungsikan sebagai tempat tinggal. Pada sebuah gedung, setidaknya ada 30 orang menyewa ruangan sempit di dalam gedung tersebut.

"Dalam keadaan normal, tempat tinggal semacam ini tidak layak digunakan sebagai tempat tinggal bagi manusia. Namun, bagi sebagian orang, termasuk saya, tinggal di tempat ini hanya karena harga sewanya murah," kata salah seorang satu penyewa bernama Yu Wai-chan.

Saat ini ada sekitar 100.000 penduduk Hong Kong tinggal dalam tempat serupa seperti Yu Wai-chan. Sebenarnya, harga sewa untuk sebuah ruang sempit yang disewa oleh Yu dan ratusan ribu warga Hong Kong lainnya tidak tergolong murah. Dengan melonjaknya harga properti, harga sewa ruang-ruang tersebut juga melonjak hingga 20 % pada bulan lalu.

Ruang-ruang sewa berukuran sangat kecil itu sering disebut dengan "rumah tempat tidur". Harga sewa ruang-ruangan itu awalnya hanya sebesar 13 dolar AS. Saat ini, penduduk Hong Kong yang ingin tinggal di tempat tersebut harus merogoh kocek hingga 170 dolas AS atau sekitar Rp 1.600.000. Pemerintah setempat mengatakan, jika dihitung perkaki persegi, bahkan harga tersebut lebih mahal daripada harga sewa properti mewah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau