Jakarta, Kompas -
Hal itu terungkap dalam wawancara tertulis Kompas dengan Presiden Korsel Lee Myung-bak menjelang pelaksanaan BDF V- 2012 di Nusa Dua, Bali, 8-9 November. Berikut petikan wawancaranya.
Tanya: Apa pendapat dan harapan Bapak dalam BDF 2012?
Indonesia dikenal sebagai model demokrasi Islam dan negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari demokrasi di Indonesia. Saya salut dengan visi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang 5 tahun lalu mengawali penyelenggaraan BDF ini.
Menurut saya, tema ”Mendorong Prinsip Demokrasi dalam Tatanan Global” sangat aktual, terutama jika berkaca kepada fenomena Arab Spring.
Bersama Presiden Yudhoyono, saya akan memimpin forum sebagai ketua bersama, juga bersama Perdana Menteri Australia Julia Gillard. Saya berharap ada diskusi mendalam mengenai isu keamanan, perkembangan dunia, dan peningkatan HAM melalui penguatan demokrasi dunia.
HAM dan kebebasan tak lagi dapat dinegosiasikan, maka mengangkat masalah HAM sebagai agenda pokok BDF V sangat bermakna. Saya secara khusus menaruh perhatian agar ada pengakuan sejarah terhadap korban kekerasan seksual semasa Perang Dunia II yang dilakukan Jepang dan masalah HAM di Korea Utara.
Saya yakin BDF berfungsi lebih dari ajang dialog dan kerja sama bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dan kebijakan tentang demokrasi.
Bagaimana Anda memandang hubungan Republik Korea dan Indonesia, serta upaya meningkatkan hubungan kedua negara?
Setelah kunjungan pada Maret 2009, setiap tahun saya mengunjungi Indonesia. Presiden Yudhoyono juga sudah tiga kali mengunjungi Korsel. Karena itu, saya menantikan bertemu kembali dengan Presiden Yudhoyono, yang telah menjalin persahabatan dan rasa saling percaya.
Setelah pembukaan hubungan diplomatik pada tahun 1973, kedua negara memperluas hubungan kerja sama dan persahabatan. Bahkan, kemitraan strategis kedua negara meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Tahun 2011, volume perdagangan kedua negara telah melebihi 30 miliar dollar AS, termasuk impor dari Indonesia yang berjumlah 17,2 miliar dollar AS. Seperti yang saya dan Presiden Yudhoyono sepakati Maret lalu, kedua negara berupaya keras mencapai target perdagangan 50 miliar dollar AS pada 2015 dan 100 miliar dollar AS tahun 2020.
Saya juga gembira dengan aktifnya proyek kerja sama ekonomi kedua negara, termasuk investasi skala besar dari perusahaan Korea, seperti POSCO dan Hankook Tire.
Mulai tahun 2011, Korea berpartisipasi aktif sebagai mitra utama pelaksanaan MP3EI. Saya berharap banyak dengan diresmikannya sekretariat kerja sama Korsel-Indonesia awal tahun ini di Jakarta, kerja sama kedua negara dapat lebih ditingkatkan. Saya khususnya berharap kerja sama pengembangan mobil ramah lingkungan di tingkat pemerintah dan swasta dapat segera direalisasikan.
Pada wawancara dengan Kompas pada kunjungan saya tahun 2009, saya sempat membicarakan tentang potensi sinergi kerja sama Korsel dan Indonesia. Kini, hasilnya mulai dirasakan. Tahun 2013 adalah peringatan 40 tahun hubungan diplomatik Korsel dan Indonesia. Saya yakin persahabatan dan saling pengertian di antara kedua negara akan semakin kokoh di tahun-tahun mendatang.
Saya juga berharap, dengan dibukanya perwakilan Korea untuk ASEAN di Jakarta, kemitraan strategis Korea-ASEAN berkembang semakin kuat dan berdampak positif terhadap hubungan bilateral Korea-Indonesia.
Selain itu, jika Korea dan Indonesia mengimplementasikan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) lebih dini, peningkatan hubungan di antara kedua negara dapat dipercepat. Saya yakin perkembangan ekonomi Indonesia dan kerja sama ekonomi dengan Korea senantiasa menyumbang perkembangan ekonomi kawasan dan membantu kawasan mengatasi krisis ekonomi global.
Menjelang akhir masa jabatan Anda, hal apa yang paling berkesan sebagai pemimpin negara?
Dalam masa jabatan saya, saya selalu ingat bahwa Korsel sebagai negara yang miskin sumber daya alam, dengan demikian mengandalkan impor dari luar negeri, mendapatkan penghargaan sebagai negara pertama yang mengatasi krisis ekonomi tahun 2008 dan 2010.
Buah keberhasilan itu, Korsel mendapat kenaikan peringkat kredit dari lembaga pemeringkat kredit internasional. Kenaikan peringkat kredit yang diberikan S&P, Moody’s, dan Fitch adalah pengakuan global terhadap upaya keras kami.
Selain itu, dengan tercapainya volume perdagangan sebesar 1 triliun dollar AS, Korsel juga berhasil menduduki peringkat ke-7 dalam Klub 20-50, atau kelompok negara dengan pendapatan per kapita lebih dari 20.000 dollar AS dan jumlah penduduk lebih dari 50 juta orang.
Kami sukses menyelenggarakan KTT G-20 dan KTT keamanan nuklir serta akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyung- chang. Kami juga mendapat kehormatan sebagai negara tuan rumah Sekretariat Green Climate Fund yang akan berfungsi sebagai ’Bank Dunia’ khusus di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim.
Selain itu, Korsel juga sukses bergerak dari negara penerima sumbangan pascaperang Korea menjadi negara pemberi sumbangan. Hal ini sangat menyentuh hati saya.
Bagaimana kelanjutan program kerja sama pertahanan Indonesia-Korsel setelah Anda mengakhiri masa jabatan?
Kedua negara telah mulai kerja sama di bidang industri pertahanan untuk angkatan darat, laut, dan udara secara maksimal. Kerja sama tersebut akan membawa dampak ekonomi yang besar. Diharapkan, kerja sama ini dapat berkembang lebih lanjut.
Korsel memiliki teknologi tinggi di bidang industri pertahanan. Indonesia adalah negara sahabat yang telah menjalin hubungan erat dengan Korsel, maka kami percaya untuk berbagi teknologi di bidang ini. Indonesia adalah mitra kerja sama industri pertahanan paling besar bagi Korea. Menurut saya, kerja sama ini akan terus berlanjut, bahkan setelah saya mengakhiri masa jabatan.