Myanmar

Suu Kyi Desak Pemerintah Tangani Konflik Sektarian

Kompas.com - 08/11/2012, 14:53 WIB

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi mendesak pemerintah untuk mengirim lebih banyak pasukan militer ke wilayah barat Myanmar untuk mengembalikan perdamaian yang rusak akibat kekerasan sektarian antara warga pemeluk Buddha dan etnis Muslim Rohingya.

"Setiap orang bertanggung jawab  menghormati hak asasi manusia, tanpa diskriminasi antara mayoritas dan minoritas, etnis, serta agama," kata Suu Kyi dalam sebuah pernyataan bersama dengan sejumlah anggota parlemen dari suku-suku minoritas.

"Pasukan keamanan harus ditambah untuk mengembalikan perdamaian, stabilitas, dan hukum di Rakhine," lanjut dia.

Pernyataan itu memang tidak menyebut etnis Rohingya secara spesifik, namun pernyataan itu menyampaikan rasa prihatin atas nsib etnis Rakhine.

Kerusuhan ini berfokus pada status etnis Rohingya yang dianggap pemerintah dan sebagian besar warga Myanmar adalah pendatang ilegal dari negeri tetangga, Banglades.

Dalam pernyaan langka terkait masalah ini, Suu Kyi juga mendesak pemerintah Myanmar untuk memberi informasi kepada publik tentang bagaimana pemerintah menangani masalah kewarganegaraan suku Rohingya ini.

Dalam undang-undang 1882, pemerintah Myanmar mengakui semua suku yang ada di negeri itu sebagai warga negara kecuali suku Rohingya., meskipun mereka mengklaim leluhur Rohingya sudah mendiami Myanmar sejak 160 tahun lalu.

Sekitar 800.000 jiwa suku Rohingya yang tak diakui kini berada di Negara Bagian Rakhine. Kondisi ini membuat pemerintah Myanmar yang tengah melakukan reformasi mendapat tekanan dari dunia internasional, yang menilai konflik ini bisa mengganggu transisi demokrasi Myanmar.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau