Mayat di Kali Cideng Waria Waduk Setiabudi

Kompas.com - 08/11/2012, 15:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mayat yang ditemukan pada Kamis (8/11/2012) pagi tadi di dekat Jembatan Kali Cideng, Setiabudi, adalah waria yang sering mangkal di Jalan Terusan Kuningan, di tepi Waduk Setiabudi, Jakarta Selatan.

"Namanya Yogi. Kalau malam dipanggil Ines. Dia bukan orang Taman Lawang. Mangkalnya di dekat gardu di dekat waduk situ, dekat jembatan merah," terang Suhanda (34), saksi yang pertama kali melihat korban saat ditemui Kompas.com di lokasi kejadian.

Jalan tersebut merupakan pelintasan dari arah Jalan Sultan Agung menuju Jalan HR Rasuna Said. Menurut Suhanda, lokasi tersebut selalu menjadi tempat mangkal para waria mulai jam 10 malam hingga pagi hari.

Yogi alias Ines sudah setahun menetap di pinggir kolong di dekat gedung Allianz itu. Meski dikenal luas warga sekitar, tak ada yang mengetahui secara persis asal maupun identitas lengkap Yogi alias Ines.

"Katanya sih dari Bogor. Tapi persisnya enggak tahu dari mana. Mungkin temannya si Sabrina tahu," kata Iwan, pemilik warung mie langganan Yogi.

Menurut Anda, panggilan Suhanda, pekerja harian Layanan Pembersihan Saluran DPU DKI Jakarta, setahun terakhir Yogi yang berkulit putih, dengan tubuh tinggi kurus, datang dan menetap di kolong jembatan. Perilaku Yogi yang jorok mengakibatkan kondisi tempatnya bermukim menjadi bau.

"Akhirnya dia tiduran di pinggir coran bantaran kali. Kolong jembatan bau karena dia buang air seenaknya," lanjut Anda, yang sehari-hari tinggal di kolong jembatan, dekat lokasi Yogi bermalam.

Dalam kesehariannya, Yogi hanya bekerja pada malam hari. Ia mulai ke lokasi mangkal di atas jam 12.00 WIB dan baru kembali sekitar jam 06.00 WIB pagi.

"Pagi dia ke sini buat salin pakaian doang. Terus katanya muter-muter naik busway (TransJakarta). Nanti sekitar jam 9-10 malam, dia ke sini lagi," kata Anda.

Di tempat ia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, Yogi biasanya beristirahat selama beberapa jam. Setelah itu, ia akan ke tempat biasanya melayani pelanggan.

Jasad Yogi telah dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo sekitar pukul 10.15 WIB tadi untuk menjalani visum. Ia ditemukan oleh Suhanda telah dalam keadaan tak bernyawa sekitar pukul 08.30 WIB tadi. Saat ditemukan, Yogi mengenakan sweater berwarna merah dan celana panjang warna hitam.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau