Diabetes Juga Terjadi Pada Anak

Kompas.com - 08/11/2012, 17:04 WIB

Kompas.com - Selama ini banyak orang masih mempercayai diabetes sebagai penyakit yang identik dengan orang dewasa. Padahal, belakangan ini jumlah pasien diabetes anak terus meningkat. Apa yang harus dilakukan orangtua?

International Diabetes Federation memperkirakan 366 juta orang di dunia menyandang diabetes di tahun 2011. Dari jumlah tersebut setiap tahunnya ditemukan kasus baru diabetes tipe 1 pada anak sebanyak 78.000.

Di Indonesia, menurut dr.Aman Pulungan, Sp.A (K), ketua gugus tugas endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyakit diabetes pada anak mencapai 0,3 per 100.000 anak per tahun. Artinya, dari populasi anak Indonesia saat ini yang mencapai 80 juta, ada sekitar 240 kasus diabetes baru pada anak ditemukan setiap tahun.

"Tiga tahun lalu hanya ditemukan 156 kasus diabetes pada anak, tetapi menurut data bulan Oktober tahun 2012 kini ada 816 kasus. Dalam tiga tahun peningkatannya mencapai 500 persen," katanya dalam acara media edukasi mengenai diabetes pada anak yang diadakan oleh PT.Roche Indonesia di Jakarta, Rabu (7/11/12).

Aman menyebut fenomena peningkatan jumlah pasien diabetes anak itu sebagai bom waktu bagi masalah kesehatan di Indonesia. "Data tersebut hanya didapat dari dokter endokrinologi anak di Indonesia, padahal sebenarnya masih banyak yang belum terdiagnosa," katanya.

Tipe diabetes

Berdasarkan sebab yang mendasari timbulnya, diabetes dibagi menjadi beberapa golongan atau tipe, yakni diabetes tipe 1 yang disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga tidak bisa menghasilkan insulin sama sekali, diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, diabetes pada kehamilan, serta diabetes tipe lain yang disebabkan karena kelainan tertentu, misalnya akibat penyakit hipertiroid.

Di antara tipe-tipe diabetes, yang termasuk tipe utama adalah diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Diabetes tipe 1 biasanya mengenai anak-anak dan remaja. Menurut Aman, penyakit ini timbul karena imunitas tubuh menghancurkan sendiri insulin yang diproduksi sel beta dari pankreas. Pemicunya bisa karena faktor genetik atau serangan virus.

Pada tipe tersebut, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga untuk bertahan hidup pasien harus diberikan insulin dari luar dengan cara disuntikkan.

Biasanya pada diabetes tipe 1 gejala dan tandanya muncul mendadak. Yang jadi masalah adalah cukup banyak anak yang tidak memiliki riwayat diabetes tetapi terdiagnosa.

Karena itu orangtua sebaiknya memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik anak. Perhatikan pula perkembangan berat badan anak. Jika terindikasi diabetes, seperti cepat lapar dan haus, sering buang air kecil, berat badan tidak pernah naik atau turun drastis, segera periksakan kadar gula darahnya.

Penanganan tepat

Bagi penderita diabetes tipe 1, hidup tak bisa lepas dari insulin. Setiap empat kali dalam sehari mereka harus menyuntik insulin. Selain itu, juga harus selalu memperhatikan pola makan serta harus selalu mengontrol level kadar gula darahnya.

Menurut Aman, ada empat pilar penanganan diabetes pada anak, yakni suntik insulin, menjaga pola makan, olahraga teratur, serta edukasi agar anak memahami kondisinya.

Tujuan utama pengobatan diabetes pada anak adalah menjaga tumbuh kembang anak tetap normal dan mengontrol kenaikan gula darahnya. Studi tentang terapi diabetes membuktikan kontrol gula darah dapat mengurangi faktor risiko komplikasi dan melindungi tumbuh kembang anak tetap optimal.

"Pemeriksaan gula darah menjadi bagian yang tak terpisahkan karena untuk menentukan dosis insulin yang diperlukan harus diperiksa dulu kadar gula darahnya," kata dokter yang menjadi project leader dari World Diabetes Foundation untuk fokus penanganan diabetes anak di Indonesia ini.

Gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemi) maupun terlalu rendah (hipoglikemi) sama-sama berbahaya bagi pasien diabetes tipe 1. Hipoglikemi bisa menyebabkan koma diabetikum yang mengancam jiwa. Hiperglikemi akut juga bisa menyebabkan keracunan keton yang bisa memicu komplikasi.

Orangtua dan tim medis harus bekerja sama untuk memonitor dan membantu anak menjalani kehidupan kesehariannya. Orangtua dan keluarga harus mengetahui apa itu diabetes, pengobatan, penanangan gizi, serta pencegahan terjadinya komplikasi. Setiap pihak juga seharusnya mengetahui penanganan pertama jika terjadi keadaan darurat pada anak.

Dengan penanganan yang tepat anak penderita diabetes dapat hidup sehat dan tumbuh optimal. Aktris Halle Berry, penyanyi Nick Jonas, sampai atlet renang olimpiade Gary Hall Jr, adalah contoh kasus yang bisa membuktikan bahwa penyandang diabetes tipe 1 bisa hidup sehat dan sukses.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau