Aryo Wisanggeni G
Goethe Institut dan Bentara Budaya Jakarta memamerkan foto-foto seni yang mengabadikan film-film eksperimental karya Ulrike Ottinger. Apa yang tersuguhkan seperti dongeng tentang dunia yang lain, yang indah sekaligus mendengungkan tanya.
Sebuah film pendek karya Ulrike Ottinger, Freak Orlando
Ungkapan ”Ottinger adalah perempuan pembuat film Jerman yang paling tegas menerapkan kemauan sendiri” terjelaskan dari janggalnya adegan-adegan Freak Orlando. Corong-corong pabrik yang dikelilingi orang-orang berkostum aneh, perjamuan para ilmuwan di dasar kolam renang yang airnya tinggal setinggi betis dan jamuannya yang dikepung saling sengkarut kawat berduri, juga adegan seorang cebol berlumur pewarna putih berbercak hitam, persis seperti bulu anjing great dane yang menyeretnya berjalan cepat.
Penutup film pendek itu sebuah orkestra yang terdiri dari sekumpulan orang cebol berpakaian aneh, berdansa diiringi akordion. Dirigennya, seorang perempuan tak berpaha tak bertangan, yang didudukkan di atas sebuah pilar pendek. Nyeri melihat perempuan itu dihadirkan seperti sebuah patung torso, sebongkah patung torso yang hidup!
Ottinger, sang sutradara, pastilah ”orang yang semaunya sendiri” mengaduki emosi penontonnya. Meminjam ungkapan Gertrud Koch dalam catatan pengantar pameran Kristina Jaspers, ”Sinema Ulrike Ottinger adalah sinema atraksi dalam arti harfiah: atraksi itu bisa menarik, menjijikkan, mengejutkan, mencengangkan.”
Sebagian besar foto-foto yang tersaji dalam pameran ”Ulrike Ottinger, film.seni” adalah dokumentasi proses pembuatan film-film Ottinger. Seperti filmnya, foto dokumenter atas film Freak Orlando pun hadir seperti sebuah lukisan surealis, yang menyangatkan apa yang nyata, menyeret penikmat foto dalam dunia dongeng yang difantasikan Ottinger.
Foto sang dirigen tunadaksa hadir dalam senyum manis sebuah patung torso hidup bersama sebuah foto lain yang mengabadikan adegan dansa-dansi para cebol berkostum aneh di atap gedung-gedung tua Berlin yang terbengkalai.
Fotografer Oscar Motuloh membeber keistimewaan foto-foto Ottinger. ”Foto itu sejatinya foto dokumenter, mendokumentasikan film Ottinger yang surealis. Karena apa yang dipotret adalah adegan-adegan unik dan janggal, fotonya pun terhadirkan unik dan janggal, sekaligus menyeret kita kepada dunia khayalan Ottinger yang ilusif dan liar,” ujar Motuloh.
Kekuatan Ottinger justru tampak nyata dari foto-foto yang mengabadikan kehidupan keseharian di antara orang-orang yang terabadikan film-film dokumenter Ottinger, seperti China. Die Künste-Der Alltag yang realis ataupun Mongolia yang disebut Kristina Jaspers mengaburkan batas antara fakta dan fiksi. Film Ottinger, yang dokumenter ataupun fiksi, selalu mencuatkan imajinasi tentang sebuah dongeng.
”Itu juga terlihat dari foto-fotonya di India. Kepada siapa pun yang menjadi subyek foto atau filmnya, Ottinger selalu menempatkan diri setara. Semua, yang dihadirkan dalam gaya surealisme ataupun realisme, tampil wajar, baik filmnya maupun fotonya,” kata Motuloh.
Kepala Bagian Program Budaya Goethe Institut Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Katrin Sohns menyebut Ottinger sebagai salah satu sineas yang berpengaruh besar terhadap perkembangan sinema Jerman. Menurut Sohns, film dan foto karya sineas kelahiran Konstanz tahun 1942 itu seperti kesatuan.
”Ottinger membuat setting film untuk dipotret, sekaligus membuat setting foto untuk difilmkan. Pameran keliling di sejumlah negara itu melibatkan Ottinger dalam proses kurasi. Di Indonesia, pameran itu menghadirkan foto pembuatan film sineas Garin Nugroho yang menggarap ritual-ritual yang dekat dengan masyarakat Indonesia, yang kami harapkan bisa menjadi pintu masuk memahami karya Ottinger.”
Foto yang dihadirkan adalah dokumentasi sejumlah film Garin Nugroho, seperti Opera Jawa, Generasi Biru, Under the Tree, yang dibidik fotografer Timur Angin, Ketut Bocel, ataupun Tim Still Photo SET Film. Adegan seorang lelaki berlari membawa organ hati dalam film Opera Jawa memang terasakan dekat sekaligus janggal, barangkali bagi sebagian orang cukup janggal untuk memahami kejanggalan karya Ottinger.
Sejumlah film karya Ottinger pun tersedia di Bentara Budaya Jakarta, seperti Usinimage, Superbia-Der Stolz, Das Exemplar, Still Moving, Johanna D’Arc of Mongolia, dan Exil Shanghai yang hadir lebih realis. Untuk menonton dua film terakhir itu, siapkan waktu Anda karena Mongolia berdurasi 165 menit dan Shanghai berdurasi 275 menit. Tenang, Anda masih bisa menikmatinya hingga 22 November mendatang, mencicipi sendiri rasa ”menarik, menjijikkan, mengejutkan, atau mencengangkan” itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang