Afganistan

Gubernur Kandahar, Anggaran Minim, dan Taliban

Kompas.com - 12/11/2012, 17:41 WIB

KANDAHAR, KOMPAS.com - Empat tahun menjabat gubernur di Provinsi Kandahar, Afganistan, Tooryalai Wesa sudah mengalami sembilan kali percobaan pembunuhan. Percobaan pembunuhan terakhir dilakukan seorang tamu yang menyembunyikan sepucuk pistol di sol sepatunya.

Setelah sembilan kali nyaris tewas dibunuh, Wesa tak lagi mempermasalahkan masalah-masalah seperti ini. Bahkan dia bisa dikatakan tak lagi takut menghadapi ancaman pembunuhan. Satu hal yang ditakutinya adalah minimnya anggaran yang dimiliki pemerintah Provinsi Kandahar.

"Kami tak memiliki cukup sumber dana dari pemerintah. Apa yang dijanjikan jauh dari cukup untuk kami," kata Wesa, akademisi lulusan Universitas British Columbia, Kanada itu.

Dengan sebagian besar pasukan internasional akan ditarik mundur pada akhir 2014, apa yang terjadi di Kandahar akan menentukan apakah keputusan Presiden Barack Obama mengirimkan 30.000 pasukan tambahan pada 2010 untuk menciptakan stabilitas di kawasan selatan, adalah keputusan yang benar.

Wesa mengatakan bantuan Amerika Serikat untuk menciptakan pemerintahan yang kredibel di Kandahar cukup berhasil. Namun, dia membutuhkan tambahan anggaran dari pemerintah pusat di Kabul untuk menyelesaikan berbagai proyek di provinsi itu.

"Afganistan masih baru, proses transisi juga masih baru. Masih banyak masalah di sebuah sistem baru. Semoga di masa depan, semuanya akan sesuai rencana," papar dia.

Wesa, yang adalah ahli pertanian yang menghabiskan belasan tahun bekerja di Kanada, ditunjuk Presiden Hamid Karzai sebagai gubernur pada 2008 lalu.

Sejak memerintah, Wesa berhasil menepis keraguan AS, yang khawatir mundurnya pasukan internasional akan membuat para penyelundup heroin akan menguasai provinsi itu. Wesa meyakinkan peran para panglima perang di Kandahar semakin hari semakin meredup.

"Orang-orang itu sudah mulai menurun pengaruhnya. Mereka tak mendapatkan lagi kemewahan yang pernah mereka dapatkan,"ujar Wesa.

Wesa mengatakan kini gubernur dapat berkendara hingga ke pedesaan, sebuah kegiatan yang dulu sama sekali tak terpikirkan. Kini keluhan warga bisa terdengar pemerintah, sebuah pertanda membaiknya hubungan antara pedesaan dan pusat pemerintahan.

"Pemerintah dulu tak pernah sampai di pedesaan. Sesampainya kami di sana, rakyat langsung bersama kami. Rencana besarnya adalah terus maju," tambah dia.

Secara umum, Kandahar kini lebih aman dibanding pada 2010. Saat itu, Kandahar kerap dilanda bom mobil dan serangan para pemberontak. Pembunuhan para pejabat pemerintah juga mulai berkurang. Sejak April lalu, Wesa juga sudah tidak menerima ancaman pembunuhan.

Kini Kandahar semakin hidup. Mahasiswa mulai memenuhi Universitas Kandahar. Sementara itu di pedesaan, meski pasukan AS mulai berkurang, namun serangan pemberontak juga jarang terjadi.

Pada April 2014, Afganistan akan menggelar pemilihan presiden dan Hamid Karzai tidak bisa mencalonkan diri lagi. Dengan kondisi ini, apakah Wesa yakin pembaruan yang dilakukannya akan bertahan?

"Saya kira saya optimistis. Apakah Anda kira kami akan hidup dalam perang selamanya?" ujarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau