Oknum dpr peras bumn

Misteri Gula Baksos Demokrat

Kompas.com - 12/11/2012, 18:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Permintaan gula 2.000 ton anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Demokrat oleh Idris Sugeng kepada Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro diduga juga terkait dengan bakti sosial yang dilakukan kumpulan istri politisi Partai Demokrat. Terkait hal ini, Sugeng tidak menjelaskannya secara gamblang.

"CSR saya dapat permintaan dari segala penjuru, bukan itu saja," ujar Sugeng, Senin (12/11/2012), dalam jumpa pers di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Sugeng yang tampak letih itu menjawab pertanyaan wartawan secara perlahan dengan suaranya yang lirih. Ketika kembali ditegaskan apakah ada permintaan istri politisi Partai Demokrat agar dirinya meminta gula ke RNI, Sugeng justru meralat perkataannya lagi.

"Nggak ada itu," kata politisi senior yang kini sudah berusia 70 tahun ini.

Sugeng tampak tergesa-gesa menyelesaikan jumpa persnya di ruang wartawan Nusantara III. Meski dihujani banyak pertanyaan dari wartawan yang tidak puas akan penjelasannya itu, Sugeng langsung beranjak ke luar ruangan didampingi tiga personel Pamdal yang menjauhkannya dari wartawan.

"Iya kan sudah tadi. Sudah ya," katanya sambil masuk ke dalam mobil Toyota Land Cruiser warna hitam miliknya.

Kabar soal adanya permintaan gula oleh Idris Sugeng untuk bakti sosial istri-istri politisi Demokrat ini dilontarkan oleh politisi PDI-Perjuangan, Hendrawan Supratikno. Sebagai sesama politisi senior yang bertugas di Komisi XI, Hendrawan Supratikno mengaku diceritakan Sugeng soal awal mula penyebutan namanya yang dikait-kaitkan dengan dugaan pemerasan direksi RNI.

"Saya sudah bertemu langsung dengan dia (Idris) yang meminta 10.000 ton gula, bukan 2.000 ton gula. Pak Ismed katakan you hubungi saja bagian pemasaran, Pak Oki. Kemudian Idris mengaku ini juga untuk bakti sosial istri-istri anggota DPR dari Fraksi Demokrat," ujar Hendrawan, Kamis (8/11/2012), saat dijumpai di studio Kompas TV.

Berdasarkan pengakuan Idris, Hendrawan mengatakan bahwa acara bakti sosial itu dikoordinasi oleh istri politisi Partai Demokrat, Saan Mustopa. "Katanya gula itu untuk bakti sosial di Depok," ujarnya. Akhirnya, Idris Sugeng membeli sekitar 4 ton gula dan mentransfer uang Rp 55 juta.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa memastikan gula untuk acara bakti sosial yang dilakukan istri-istri politisi Partai Demokrat sama sekali tidak terkait dengan kasus dugaan pemerasaan terhadap direksi PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Gula tersebut disebut Saan murni dari pembelian yang dilakukan dengan harga normal.

"Saya langsung cek ke istri saya. Ternyata, memang tidak terkait sama sekali. Gula itu murni dibeli ibu-ibu Demokrat resmi pakai surat, jadi jual beli karena RNI kan juga komersial," ungkap Saan, Jumat (9/11/2012), saat dihubungi wartawan.

Saan mengatakan transaksi hanya terjadi sekali, yakni sekitar bulan Agustus 2012. Ketika itu, komunitas istri politisi Demokrat hendak melakukan bakti sosial dan memerlukan sekitar 5 ton, tetapi akhirnya hanya bisa membeli 4 ton dari PT RNI.

"Ada juga bukti transfernya Bank Mandiri senilai Rp 48 juta. Jadi, per ton harganya Rp 12 juta, harga normal," kata Saan.

Lebih lanjut, Saan tidak mengetahui jika Idris Sugeng meminta gula ke PT RNI dengan menyertakan juga alasan bakti sosial istri-istri politisi Partai Demokrat. "Saya tidak tahu kalau soal itu. Yang jelas ini tidak melalui Idris Sugeng, istri saya langsung beli ke RNI. Kalau memang ternyata demikian, saya nanti coba klarifikasi ke dia," ujar Saan.

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Dahlan Iskan Versus DPR

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau