Basuki Ancam Copot Pejabat yang Boros Anggaran

Kompas.com - 13/11/2012, 05:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan mengambil sikap tegas terhadap dinas-dinas yang tidak dapat memanggakas anggarannya pada tahun depan. Basuki bahkan menantang para pejabat dinas untuk melakukan perbaikan anggaran.

Hal itu terlihat pada video pertemuan Basuki dengan pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) dan Dinas Pekerjaan Umum (Dinas PU) pada dua pertemuan terpisah, Kamis (8/11/2012). Pertemuan itu direkam dalam wujud video dan diunggah di akun Pemprov DKI di Youtube.

Pada pertemuan dengan Dishub pada Kamis pagi, Basuki meminta agar Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono beserta aparat lain di dinas tersebut mencari cara untuk menghemat anggaran. Basuki mengatakan, pemangkasan anggaran ini dilakukan karena Pemprov DKI akan menggunakan banyak anggaran untuk membeli tanah di kawasan-kawasan kumuh.

Pada sore hari, Basuki bertemu dengan aparat Dinas PU. Tanpa basa-basi, Basuki langsung meminta perwakilan Dinas PU untuk menyampaikan langsung anggaran yang diajukan.

Setelah itu, Wakil Kepala Dinas PU Tarjuki berbicara mengawali pembahasan anggaran. Namun, baru beberapa detik Tarjuki menyampaikan kata-kata pembuka, Basuki langsung menyela pembicaraan dan menanyakan apakah semua pagu anggaran yang diajukan oleh Dinas PU telah dipotong sebesar 25 persen sebagaimana telah diminta oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

"Tugas saya ini motong anggaran. Tadi waktu di (Dinas) Perhubungan, Perhubungan punya biaya jembatan semua mahal, itu karena hitungan-hitungan dari PU, satuan-satuannya," kata Basuki.

Atas hal tersebut, Basuki langsung mengajukan dua alternatif pembiayaan proyek. Yang pertama, Basuki menawarkan agar Dinas PU memotong sendiri semua anggaran yang diajukan sebesar 25 persen. Yang kedua, Basuki mengancam akan menghapus proyek-proyek di Dinas PU dan akan mengerjakannya dengan anggaran dari biaya operasional Wakil Gubernur.

"Yang kedua saya hapus proyek itu, saya pakai uang operasional saya untuk membangun itu. Kasih saya spek (spesifikasi) untuk membangun itu," kata Basuki.

Tidak berhenti di situ, Basuki juga mengancam akan mencopot semua pejabat eselon III jika terbukti Basuki dapat menjalankan proyek-proyek tersebut dengan biaya lebih murah. Basuki menegaskan bahwa semua anggaran itu akan ditayangkan di website pribadinya. Ia juga menyatakan bahwa pertemuan itu direkam dan ditayangkan pula di Youtube.

"Paling penting itu PU, PU ini proyeknya banyak. Sekarang saya minta DKI, kita ingin bahwa perbaikan (anggaran) dipotong 25 persen. Kalau Bapak yang minta, Bapak tidak bisa (memotong anggaran), mari kita berdebat, kita ambil contoh, saya yang bangunkan. Tapi kalau saya yang bangunkan, saya akan periksa semua pekerjaan yang lalu, saya akan proses di KPK atau jaksa, saya akan buka koreng lama. Ini kedengarannya tidak enak karena kerjaan saya memang tidak enak," kata Basuki.

Basuki sangat yakin bahwa anggaran itu bisa dipotong, bahkan hingga 40 persen. Kepada audiens di rapat tersebut, Basuki menyatakan bahwa ia memiliki pengalaman dalam penyusunan anggaran di DKI Jakarta semasa kepemimpinan gubernur Sutiyoso pada 1997-2007.

Atas permintaan itu, Tarjuki menyatakan bahwa Dinas PU setuju dengan rencana pemotongan anggaran tersebut. Setelah itu, rapat dilanjutkan dan Basuki mengomentari setiap anggaran yang dianggapnya tidak perlu dilakukan atau terlalu besar.

Berita terkait dapat dilihat di topik 100 Hari Jokowi-Basuki.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau