Inikah Pornografi dari Masa Prasejarah?

Kompas.com - 14/11/2012, 16:37 WIB

KOMPAS.com — Manusia pada masa lalu menghasilkan beragam karya seni, misalnya lukisan di batu ataupun arca. Beberapa karya seni menunjukkan tubuh manusia tanpa busana ataupun organ intim manusia.

Sebuah arca pernah ditemukan pada tahun 1908 di Austria, bernama Venus of Willendorf. Usia arca itu sekitar 25.000 tahun dengan tinggi sekitar 11 cm. Arca tersebut sering disebut sebagai bagian "palaeo-porn" atau pornografi zaman purba.

Karya seni lain adalah ukiran batu berusia 37.000 tahun yang ditemukan di wilayah Abri Castanet, Perancis. Ukiran tersebut, menurut ilmuwan, menunjukkan organ kelamin perempuan, berupa lingkaran dan gambaran serupa celah di sisinya.

Di sisi lain, sudah di masa sejarah, Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu juga menunjukkan arca dan relief yang eksplisit menunjukkan tubuh manusia. Terdapat figur yoni di lantai candi, serta figur pria tanpa kepala yang sedang menggenggam kelaminnya.

Penemuan tersebut sering memunculkan pertanyaan. Apakah manusia di zaman purba sudah mengenal pornografi? Benarkah karya seni yang ditemukan merupakan pornografi.

Temuan ukiran di Perancis dalam berita New York Times, 14 Mei 2012, lalu berjudul "A Precursor to Playboy: Graphic Images in Rock". Sementara itu, berita temuan Venus of Hohle Fels pada tahun 2008 diberi judul "Obsession with Naked Women Dates Back 35,000 Years".

April Nowell, seorang arkeolog dari University of Victoria, Kanada, mengungkapkan bahwa karya seni masa lalu yang menunjukkan tubuh manusia tak berarti pornografi. Menurutnya, ide bahwa karya seni itu merupakan pornografi adalah cara manusia modern untuk melegitimasi akar perilakunya saat ini dengan masa lalu.

Dalam wawancara dengan New Scientist, Selasa (13/11/2012), Nowell mengatakan bahwa karya seni yang mempertunjukkan tubuh manusia di masa lalu punya arti lain. "Ketika kita bicara seni paleolitik di masa lalu lebih luas, kita bicara tentang keajaiban berburu, agama ataupun kesuburan."

Publikasi yang terkait interpretasi seni dengan pornografi muncul di media massa, bahkan jurnal ilmiah seperti Nature.

"Itu memungkinkan jurnalis, peneliti, pakar evolusi pada khususnya untuk melegitimasi dan menaturalisasi nilai-nilai Barat masa kini dan perilakunya dengan melihat balik pada 'kabut prasejarah'," ungkap Nowell.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau