Pilkada sumatera utara

Demokrat Tak Pilih Sutan Bhatoegana

Kompas.com - 16/11/2012, 02:32 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Partai Demokrat resmi mengusung pasangan Amri Tambunan dan Rustam Effendy sebagai calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara. Pasangan ini akan bersaing dengan empat pasangan lain yang telah mendeklarasikan diri, yaitu Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi, Chairuman Harahap-Fadly Nurzal, Gus Irawan Pasaribu-Soekirman, dan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi.

Dengan keputusan ini, sejumlah nama politisi Partai Demokrat yang disebut-sebut akan digadang menjadi Sumut-1, di antaranya anggota DPR Sutan Bhatoegana, tak menjadi pilihan. Ketua Tim Sembilan DPD Partai Demokrat Sumut Tahan Manahan Panggabean, Kamis (15/11/2012), mengatakan, pasangan yang diusung Partai Demokrat merupakan pilihan terbaik. Adapun nama lain banyak mendapat penolakan dari kader.

Partai Demokrat yang memiliki 27 kursi tidak berkoalisi dengan partai mana pun. Semula, pasangan ini akan mendaftar kemarin, tetapi batal karena Ketua DPD Partai Demokrat Sumut HT Milwan tidak muncul. Kejadian ini memunculkan rumor bahwa Milwan tidak mendukung Amri-Rustam. Namun, hal ini dibantah Sekretaris Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat Hinca Panjaitan.

"Iya, isu banyak sekali," katanya.

Hinca menjelaskan, yang memiliki wewenang penuh memutuskan siapa calon gubernur yang diusung adalah Majelis Tinggi Partai. Kenapa kader Partai Demokrat yang mencalonkan diri seperti HT Milwan, Sutan Bhatoegana, dan nama lainnya tak didukung?

"Itu kewenangan pusat. Partai melihat Sutan Bhatoegana dan Cornel Simbolon masih dibutuhkan partai. Begitu pun dengan HT Milwan, masih dibutuhkan di daerah untuk memimpin partai. Kan harus satu, enggak mungkin semua," ujarnya.

Survei

Berdasarkan polling Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dirilis 28 Oktober, pasangan Amri-Rustam dianggap saling melengkapi. Elektabilitas, popularitas, dan akseptabilitas pasangan ini tergolong tinggi. Hanya kalah dari pasangan Gatot-Erry.

Hinca mengatakan, DPP memutuskan Amri Tambunan dan RE setelah melakukan pemantauan tiga sampai empat bulan yang lalu. Apakah survei menunjukkan Amri Tambunan terbaik dari Sutan Bhatoegana dan nama-nama lain?

"Survei tidak harus menerjemahkan dialah yang terbaik. Survei itu kan angka-angka dan partailah yang menerjemahkan angka-angka tersebut. Partai memutuskan hanya satu calon, tidak mungkin lebih dari satu, jatuhnya kepada Bang Amri," ujarnya.

Hinca mengatakan, Partai Demokrat belum mendaftarkan Amri-RE ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut karena waktu yang sangat mepet.

"Siap-siap tadi daftar. Nunggu Bang Sutan, nunggu semua, ah besok sajalah. Lagian tutup pendaftaran pukul empat," ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPUD Sumut Irham Buana Nasution menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang No 32 Tahun 2004, pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah harus dilakukan tanda tangan pimpinan partai politik di setiap tingkatan.

"Wajib. Kalau pilkada provinsi maka yang menandatangani itu adalah DPD atau DPW-nya. Dalam hal ini ketua dan sekretaris partai politik tersebut," ujarnya.

Adapun pasangan yang sudah mendaftarkan diri sebagai pasangan calon ke KPU adalah:

1. Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi (diusung lima partai, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Bintang Reformasi (PBR), yang memiliki 17 kursi di DPRD Sumut. Kemudian, dua partai yang tak memiliki kursi, yakni Partai Patriot dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)).

2. Chairuman Harahap-Fadly Nurzal (Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan partai lainnya, yaitu Partai Buruh serta Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI)).

Sementara tiga pasangan lainnya, yakni Amri-Rustam Effendy, Gus-Soekirman, dan Efendi-Jumadi, akan mendaftarkan diri pada hari terakhir, Jumat (16/11/2012) ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau