Krisis Gaza: Israel Siapkan Tentara Cadangan

Kompas.com - 16/11/2012, 11:31 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak telah meminta 30.000 tentara cadangan untuk bersiap, di tengah spekulasi kemungkinan serangan darat di Gaza. Pengumuman ini keluar setelah militan Palestina menembakkan roket dari Gaza ke Tel Aviv.

Pertempuran semakin meningkat sejak Israel membunuh Ahmed Jabari, pemimpin militer Hamas yang mengontrol Gaza, Rabu (14/11/2012).

Sedikitnya 18 warga Palestina di Gaza tewas dalam serangan udara Israel, termasuk anak-anak dan tiga warga Israel tewas disebabkan oleh tembakan roket Palestina ke selatan Palestina.

Pada Kamis malam, Hamas mengatakan telah menembakkan lebih dari 350 roket dari Gaza, yang oleh Israel disebut 130 di antaranya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan antimisil Iron Dome.

Akan tetapi, di Tel Aviv, warga berlindung setelah sirene serangan udara dibunyikan akibat ancaman misil yang pertama di kota ini sejak 1991. Satu misil mendarat di sebuah kawasan tak berpenduduk, sementara satu lagi jatuh di laut.

Sayap militer Jihad Islamis menyatakan, mereka telah menembakkan sebuah roket buatan Iran, Fajr-5, yang memiliki jarak tempuh sekitar 75 km.

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengatakan, serangan dengan menargetkan Tel Aviv akan ''ada harga yang harus dibayar oleh pihak lain''.

Agresi

Kamis dini hari, wartawan BBC di Gaza melaporkan sejumlah ledakan besar dan tembakan misil di sekitar kota Gaza saat serangan udara Israel berlanjut.

Ada juga laporan yang menyebut bus berisi tentara Israel dan truk yang membawa tank dan personel bersenjata berjalan menuju kawasan pantai.

Sejumlah saluran televisi Israel mengatakan, penambahan pasukan ini menunjukkan adanya rencana serangan, tetapi pejabat militer mengatakan belum ada keputusan yang dibuat.

Perdana Menteri Hamas di Gaza, Ismail Haniyeh, mengecam atas apa yang dia sebut "serangan ganas" Israel terhadap wilayah itu.

"Kami di Gaza akan tetap teguh dan tak tergoyahkan,'' katanya dalam pernyataan di televisi. ''Kami semua percaya kepada pejuang pemberani yang sekarang ditempatkan di garis depan.''

Warga Palestina yang tewas di Gaza dalam dua hari serangan udara Israel dan tembakan angkatan laut kebanyakan adalah warga sipil, termasuk sedikitnya empat anak-anak, satu di antaranya adalah anak lelaki Jihad Misharawi, editor gambar BBC Arab.

Sementara itu, tiga warga Israel yang tewas adalah dua perempuan dan seorang lelaki yang tewas akibat serangan roket di kawasan selatan kota Kiryat Malachi.

Presiden baru Mesir Mohammed Mursi menyebut serangan Israel sebagai ''agresi yang tak dapat diterima'' dan mengatakan akan mengganggu stabilitas di kawasan.

Perdana Menteri Mesir Hisham Qandil juga pergi ke Gaza pada Jumat (16/11/2012) sebagai bentuk dukungan. Selama ini, Kairo termasuk pihak yang aktif memediasi Israel dan Hamas dalam pertempuran.

AS selaku sekutu kunci Israel telah mendesak Mesir, Turki, dan negara besar Eropa yang memiliki hubungan dengan Hamas untuk mendorong kelompok tersebut menghentikan serangan roket dari Gaza dengan menyatakan tanggung jawab ada di pihak Hamas untuk menghentikan serangan.

Para menteri luar negeri Liga Arab juga akan menggelar pertemuan darurat pada Jumat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau