Lewat Dongeng, Anak Lebih Mudah Ingat Nasihat

Kompas.com - 16/11/2012, 16:49 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Salah satu media paling efektif untuk membentuk kebiasaan dan karakter anak sejak usia dini adalah mendongeng. Media ini, sudah sejak dulu menjadi satu alat komunikasi pada awal manusia sebelum ada tulisan. Dari dongeng, kita dapat meneruskan informasi dan nasihat secara terus menerus bahkan lintas generasi.

Demikian disampaikan oleh pendongeng anak Resha Rashtrapatiji di sela kegiatan Tur Edukasi Bumiku Lestari di SD Lazuardi Cinere, Depok, Rabu (14/11/2012). Resha mengatakan, sudah saatnya orangtua dan guru kembali menggunakan dongeng sebagai umpan dalam mendidik anak menjadi ramah lingkungan.

"Apa yang masih mereka senangi, maka bagian itu kita maksimalkan. Dengan mengemas dongeng menjadi lebih menarik, satu dua pesan mereka akan mengingatnya," kata Resha kepada Kompas.com.

Usai mendongengkan kisah Si Badu di hadapan para siswa, Resha meyakini anak-anak mampu merekam pesan-pesan yang disampaikannya dalam tokoh kreatif rekaannya.

"Mungkin tidak secara langsung, mereka akan mengubah gaya hidup atau bersikap terbaik dalam seketika, tetapi dengan mendongeng, memorinya dapat me-recall pesan-pesan tersebut di kemudian hari, saat anak di usia dewasa," katanya.

Dalam tur edukasi yang digelarnya bersama dengan penyanyi Oppie Andaresta, Resha bertugas mendongengkan kisah Badu dan Bejo. Dalam cerita tersebut terkandung pesan untuk menjaga keberlangsungan hidup hewan langka dan pohon serta menjaga lingkungan dan sungai dari sampah.

Dalam mendongeng, lelaki yang juga bergabung di komunitas pendongeng cinta lingkungan ini akan lebih banyak menggunakan berbagai alat peraga sebagai pendukung kesuksesan dongeng yang dibawakannya.

"Alat peraga itu penting, secara visual, ia akan membantu imajinasi anak, dan memberi logika yang jelas, apalagi jika dibawakan dengan all out," ucapnya.

Dalam kampanye pelestarian hewan langka lewat dongeng misalnya, Resha menggunakan boneka orangutan berukuran besar. Anak-anak akhirnya tahu bahwa orangutan ini hidup dan memiliki rumah di hutan.

"Dari sana kita memberikan satu logika ke anak-anak, tentang permisalan suka atau tidak kalau rumah tempat tinggal kita dihancurkan," katanya.

Dalam dongeng yang disampaikan pria yang akrab dipanggil Kak Resha ini pula, tema kebersihan, hemat energi, air, suka menabung disisipkan. Melalui kisah para tokoh yang menari, anak lebih mudah melakukan penilaian dan menyerap pesan-pesan yang ingin disampaikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau