Asia tenggara

Myanmar Pertimbangkan Hak Etnis Rohingya

Kompas.com - 17/11/2012, 18:53 WIB

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Pemerintah Myanmar mengungkapkan kemungkinan memberikan hak-hak baru, termasuk kewarganegaraan, kepada warga Muslim Rohingya yang mengalami kekerasan komunal baru-baru ini.

Rencana itu disampaikan Presiden Myanmar Thein Sein dalam surat kepada Sekjen PBB, Ban Ki-moon, pada Jumat (16/11/2012).

Dalam suratnya, Thein Sein mengatakan pemerintah akan mengkaji berbagai persoalan "mulai dari pemukiman kembali pengungsi hingga pemberian kewarganegaraan".

PBB mengatakan pemerintah Myanmar bersedia menangani masalah itu namun tidak secara khusus berjanji akan memberikan kewarganegaraan kepada warga Rohingya.

PBB memandang Rohingya sebagai salah satu kelompok minoritas yang paling banyak mengalami penyiksaan di dunia.

Meski sudah tinggal beberapa generasi di Myanmar, namun pemerintah masih menggolongkan etnis Rohingya sebagai pendatang gelap dari negara tetangga, Bangladesh.

Dalam surat kepada PBB, Presiden Thein Sein mengecam "kekerasan tidak masuk akal" di negara bagian Rakhine antara warga Rakhine yang beragama Buddha dan Rohingya yang beragama Islam.

Dia tidak menyebut kerangka waktu penyelesaian konflik, tetapi para pengamat mengatakan langkah itu bisa dianggap sebagai hal positif di mata masyarakat internasional dan di mata Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang dijadwalkan berkunjung ke Burma pekan depan.

Negara bagian Rakhine masih tegang setelah terjerumus ke dalam dua bentrokan besar antara komunitas Buddha dan Muslim sejak Juni lalu yang menewaskan lebih dari 100 orang. Ratusan ribu orang kini tinggal di kamp-kamp sementara.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau