Konflik israel - palestina

Serangan Berlanjut, Minggu Paling "Mematikan"

Kompas.com - 19/11/2012, 10:16 WIB

Pengeboman dan serangan Israel terhadap Palestina terus berlanjut hingga Senin (19/11/2012) pagi ini, sementara jumlah korban di Gaza dilaporkan mencapai puncaknya sejauh ini akibat serangan pada Minggu (18/11/2012) sejak serangan mematikan diluncurkan pekan lalu.

Serangan hari Minggu antara lain menyasar sebuah rumah dan langsung menewaskan 10 penghuninya. Demikian kata pejabat resmi Palestina. Sementara itu, meski berkeras mengatakan serangan itu ditujukan pada tokoh Hamas, sedikitnya sembilan anggota sebuah keluarga tewas, termasuk korban perempuan dan anak.

Serangan sepanjang Minggu itu menewaskan setidaknya 26 jiwa di Gaza, sedikitnya 14 di antara korban adalah perempuan dan anak. Demikian kata pejabat Kementerian Kesehatan Gaza.

Dari pihak Gaza, serangan roket juga berlanjut yang ditembakkan ke arah Israel yang dilaporkan melukai warga di kota Ashkelon dan Ofakim.

Kedua pihak menyatakan upaya menuju gencatan senjata terus dibangun, tetapi pernyataan PM Benjamin Netanyahu menyebut Israel malah sudah siap memperluas serangannya.

Dengan demikian, jumlah korban jiwa di Gaza seluruhnya kini telah mencapai 72 orang sejak operasi serangan mematikan Israel dimulai Rabu (14/11/2012) lalu, sementara tiga warga Israel tewas akibat tembakan roket Hamas pada Kamis (15/11/2012).

Keluarga Dalou

Serangan Israel diluncurkan dari udara dan juga dari laut. Wartawan BBC melaporkan tentara negara zionis tersebut melepas tembakannya dari kapal perang mereka.

Keluarga seorang polisi, Mohamed Dalou, hampir seluruhnya tewas. Dalou dan delapan anggota keluarganya, juga seorang pria lain, terkena tembakan di rumah mereka dan tewas seketika.

Sayap militer Hamas dalam sebuah pernyataan menyebut pembunuhan terhadap keluarga Dalou tak akan berlalu begitu saja tanpa balas.

Wartawan BBC Paul Danahar melihat warga dengan panik dan alat seadanya berusaha menggali reruntuhan puing mencari sanak keluarga mereka yang terkena serangan bom Israel.

Petugas medis di RS Shifa yang banyak menerima korban luka tampak kewalahan dan kacau-balau melihat banyaknya pasien dan kondisi mereka yang parah. Seorang perawat jatuh lemas tak sanggup mengatasi tekanan emosi dan harus ditenangkan oleh rekan sejawatnya di satu sudut ruangan.

Juru bicara militer Israel, Yoav Mordechai, mengatakan pada siaran TV Channel 2 bahwa target mereka adalah Yehiya Rabiah, kepala unit pelontar roket Hamas, tetapi tembakan ternyata mengenai "korban sipil".

Sementara itu, menurut koran Haaretz di Israel, serbuan tentara negara itu ternyata salah sasaran ke rumah seorang tetangga target.

Berbagai aksi protes di seluruh dunia menuntut penghentian serangan Israel ini sepanjang akhir pekan, termasuk dari Indonesia. Sementara Presiden AS Barack Obama pada hari Minggu mengatakan, Washington "mendukung penuh hak Israel untuk membela diri".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau