Mendengar Ketua KPK Mendongeng tentang Si Bimo

Kompas.com - 19/11/2012, 17:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - "Kakak Abraham mau bercerita nih. Nanti, jangan ada yang tidur ya!" demikian kalimat pembuka dari Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad di depan anak-anak di panggung Indonesia Book Fair 2012, Istora Senayan, Senin (19/11/2012). Ada yang mengangguk, ada yang menjawab 'iya', namun semuanya menyambut pesan dari Abraham dengan antusias.

Abraham menempuh jalan mendongeng untuk anak-anak sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi di seluruh Indonesia. Di acara ini, Abraham berkisah tentang seorang tokoh bernama Bimo, bocah yang senang memancing di sungai tetapi mau berbagi ikan dengan teman-temannya.

"Suatu Ketika, Bimo berjalan ke tepi sungai, Bimo ini teman kalian. Dia ingin bermain dengan cara menangkap ikan di sungai. Ayo pernah tidak nih menangkap ikan? Ikan yang kulit licin pernah? Ikan lele?" tanya Abraham.

"Nah, kalau kita menangkap ikan pakai apa ya? Pakai jaring. Bisa tidak pakai tangan?" tanyanya lagi.

Kedua pertanyaan ini dijawab dengan gelengan oleh anak-anak. Pria berusia 45 tahun itu pun melanjutkan mendongeng.

"Nah, Bimo menangkap ikan pakai jaring, tapi tiba-tiba hujan lebat. Wah, kalau hujan kita pakai apa ya?" tanyanya disambut dengan jawaban 'payung' yang serempak dari anak-anak.

Abraham lalu menjelaskan tentang alasan memakai payung saat hujan. Dengan pengembangan cerita yang dibuat Abraham, anak-anak dibuatnya terpana.

"Karena hujan, air sungai jadi deras. Sungai mana yang pernah kalian kunjungi? Ciliwung ya? Nah, air sungai yang meluap ini membuat Bimo harus menghindari sungai. Walau begitu, Bimo tetap berhasil menangkap ikan-ikan yang banyak. Bimo dapat tiga ikan. Bimo yang baik pun mau berbagi memberikan hasilnya ke teman-teman lainnya," katanya kemudian.

Antikorupsi sejak dini

Kisah ini, menurut Abraham, mengandung pesan agar anak usia dini belajar untuk mau bekerja keras dan berbagi. Cerita tentang Bimo hanyalah satu dari puluhan cerita lain yang terangkum dalam enam seri buku antikorupsi bertajuk 'Tunas Integritas'.

"Ada nilai kebaikan lainnya, seperti jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawa, sederhana, adil, dan berani yang intinya dengan jiwa seperti itu anak-anak ditanamkan untuk tidak melakukan cara-cara yang tidak benar seperti korupsi," katanya.

Buku dongeng ini diluncurkan sebagai salah satu media kampanye dan pendidikan antikorupsi yang dilakukan KPK untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD). Sebelumnya, buku tersebut telah diluncurkan secara terbatas karena hendak didiskusikan dan diuji coba.

Buku yang ditulis oleh sekitar 30 anggota Forum Penulis Bacaan Anak (KPBA) ini akan dibagi-bagikan secara gratis untuk mendukung upaya penanaman sembilan nilai integritas yang diusung KPK dalam mencegah korupsi sejak dini. Abraham tampak menikmati membawakan dongeng di depan anak-anak meski ini adalah pengalaman pertamanya.

"Baru pertama kali saya mendongeng di depan anak-anak yang banyak, biasanya hanya mendongeng untuk anak-anak saya," ucapnya usai mendongeng.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau