Tanda-tanda Kecanduan Gula

Kompas.com - 20/11/2012, 13:12 WIB

Kompas.com - Jika anda seperti kebanyakan orang yang setiap malam sebelum tidur kerap sangat ingin makan sesuatu yang manis, besar kemungkinan Anda mengalami kecanduan gula.

Terlalu banyak mengasup makanan bergula bukan hanya buruk bagi kesehatan gigi dan berat badan, penelitian menunjukkan kaitan antara asupan gula berlebih dengan diabetes melitus, tekanan darah tinggi, stroke, dan demensia.

Jadi, berapa batasan gula yang boleh kita asup setiap hari? Sebenarnya kadar yang bisa dimetabolisme tubuh pada setiap orang berbebeda-beda. Namun  American Heart Association merekomendasikan tidak lebih dari 6 sendok teh gula untuk wanita, dan tak lebih dari 9 sendok teh untuk pria.

Menurut survei tahun 2009 yang dilakukan American Heart Association, rata-rata orang Amerika mengasup gula 22 sendok teh setiap hari, mayoritas berasal dari soft drink. Tak heran jika epidemi obesitas melanda negeri ini.

Padahal, begitu kita terbiasa mengasup terlalu banyak gula, makin lama makin sulit dihentikan. "Kecanduan gula adalah fenomena nyata," kata Nicole Avena, PhD, peneliti kecanduan makanan di Princenton University.

Ia menjelaskan, riset menunjukkan terjadinya perubahan kimiawi di otak setelah kita mengasup gula. Reaksinya serupa dengan setelah seseorang menggunakan obat terlarang.

"Makanan dan minuman bergula mengaktifkan pusat ganjaran di otak yang memberi sensasi bahagia. Kita menjadi kecanduan karena ingin mengulangi rasa nikmatnya lagi," katanya.

Gula hampir terdapat di berbagai bahan pangan, bahkan termasuk makanan yang tidak terasa manis seperti bumbu salad, saus, pasta, dan roti.

Jacob Teitelbaum, penulis buku Beat Sugar Addiction NOW! adalah dokter penyakit dalam yang sejak lama meneliti tentang kecanduan gula. Ia mengidentifikasi empat jenis kecanduan gula.

1. Orang yang selalu merasa lelah dan mencari gula untuk meningkatkan energi.

2. Orang yang menjadi gampang marah bila jarak antara waktu makan terlalu lama dan selalu memilih sumber gula sebagai camilan.

3. Orang yang selalu kesulitan menahan nafsu makan sesuatu yang manis.

4. Orang yang mengalami ketidakseimbangan hormon dan memilih gula untuk mengembalikan mood.

"Sering merasa cemas, kelelahan, dan sangat ingin mengonsumsi gula adalah tanda-tanda kecanduan gula," kata Teitelbaum.

Ia mengatakan tidak ada kadar gula yang sudah diasup setiap hari sebagai penanda seseorang kecanduan. Semua tergantung pada bagaimana perasaan seseorang ketika tidak bisa mendapatkan makanan mengandung gula.

Untuk mengurangi rasa kecanduan tersebut, cobalah alihkan keinginan makanan manis dengan meminum cukup air putih, hindari soda, dan makan secara seimbang. Beberapa kecandungan disebabkan oleh stres, karena itu kendalikan stres yang dialami.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau