Wisata Museum Melalui Gelar Museum Nusantara

Kompas.com - 22/11/2012, 07:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Museum di Indonesia, kalah pamor dengan mal dan taman hiburan. Padahal, museum bisa menjadi salah satu tempat wisata, selain tentunya menambah pengetahuan akan budaya dan sejarah Indonesia.

Menurut Ketua Kelompok Kerja Koordinator Gelar Museum Nusantara Yuni Astuti Ibrahim dalam wawancara dengan Kompas.com melalui telepon, Rabu (21/11/2012), sebagian masyarakat memandang museum sebagai sesuatu yang kuno, gelap, dan angker. Sehingga, lanjutnya, jarang orang yang mau berkunjung ke museum.

Oleh sebab itu, tuturnya, untuk membangkitkan kembali citra positif museum kepada masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengadakan "Gelar Museum Nusantara". Acara ini menampilkan sekaligus memperkenalkan ratusan museum yang ada di Indonesia.

"Sudah saatnya berkunjung ke museum menjadi gaya hidup," ungkap Wakil Menteri Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti saat dihubungi Kompas.com melalui telepon.

Wiendu menambahkan, penyelenggaraan acara yang berlangsung pada tanggal 22-25 November 2012 di Jakarta Convention Centre (JCC)  tersebut untuk mendekatkan kembali museum kepada masyarakat yang selama ini dirasa makin jauh.

"Masyarakat sudah harus tahu apa-apa saja yang ada di Kupang, Banjarmasin, di seluruh Indonesia lewat museumnya," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau