Ya Ampun! Kepergok Anak Saat Bercinta?

Kompas.com - 23/11/2012, 15:40 WIB

KOMPAS.com - Sedang asik bermesraan dengan pasangan, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah si kecil yang memandang Anda berdua dengan bingung. Aduh, harus gimana ya? Situasi ini tak sekadar membuat keintiman Anda jadi terganggu, tetapi juga memalukan sekaligus mengkhawatirkan. Anda takut "adegan panas" tersebut terekam dalam benak anak, lalu ia akan mengoceh pada teman-temannya.

Tetapi, tenang saja. Sebelum Anda panik, terapkan dua cara berikut ini.

1. Minta anak meninggalkan kamar Anda
Secara naluriah, biasanya Anda langsung berteriak atau memarahi anak untuk menyembunyikan rasa malu. Namun, Dr Rajan Bhonsle, direktur Heart To Heart Counselling Centre dan dekan Institute of Human Technology, India, menyarankan untuk tidak terburu-buru meluapkan emosi semacam itu. Sebaliknya, mintalah agar anak meninggalkan ruangan Anda dengan tegas dan bijak, tapi bukan marah.

Kemudian, ajak mereka bicara di luar ruangan. Mungkin mereka akan merasa ketakutan dengan apa yang terjadi, namun Anda harus meyakinkan mereka bahwa peristiwa tersebut bukan salah mereka. "Jika perlu, minta maaf kepada anak karena Anda lupa mengunci pintu kamar dan berjanji tidak mengulangnya lagi," sarannya.

2. Menjelaskan kepada anak
Bhonsle mengungkapkan bahwa rasa malu adalah reaksi pertama yang terlihat saat peristiwa itu terjadi. "Tetapi, kita harus paham bahwa seks adalah bagian dari kehidupan suami-istri. Dalam situasi seperti ini, orangtua sebaiknya perlu bicara pada anak tentang hal ini, dan bukannya diam saja," sarannya.

Menurut Bhonsle, diam justru akan menimbulkan berbagai persepsi dalam pikiran anak. Anak dari tiap kelompok usia punya pikiran dan reaksi yang berbeda terhadap situasi seperti ini. Maka sangat penting untuk berbicara dengan mereka untuk menghapus keraguan dan salah paham di antara mereka. Namun, pastikan untuk bersikap terbuka, dan sesuaikan pembicaraan dengan usia mereka.

Misalnya, pada anak usia tiga tahun. Saat melihat orangtua dalam posisi yang "aneh", mereka menyimpulkan hal itu sebagai tindakan kekerasan fisik yang menyebabkan ayah atau ibunya terluka. Hal ini bisa menyebabkan perasaan takut, atau mereka merasa takut pada Anda. Katakan pada anak bahwa tidak ada yang akan terluka dalam proses tersebut.

Penting juga dijelaskan kepada anak sejak usia muda bahwa setelah menikah, setiap pasangan membutuhkan waktu pribadi di mana anak-anak tidak bisa ambil bagian. Jangan lupa biasakan mereka untuk mengetuk pintu lebih dulu sebelum memasuki kamar Anda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau