Banjir Hantui Pesta Pernikahan di Kampung Pulo

Kompas.com - 23/11/2012, 17:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Di saat sebagian pemukiman di Kampung Pulo terendam banjir, ada pemandangan berbeda di lapangan kecil di Gang V, RT 04 RW 03, Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (23/11/2012) siang. Sebuah tenda lengkap dengan rumbai-rumbainya telah tegak berdiri, menaungi beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang tampak sibuk bekerja.

Ibu-ibu sibuk di depan kompor yang di atasnya bertengger dua dandang besar berisi puluhan potong ayam. Beberapa di antara ibu-ibu juga tampak asyik memotongi daun pisang. Sementara, bapak-bapak sibuk memasang lampu di tenda pesta tersebut.

Kesibukan para ibu dan bapak tersebut tampak kontras dengan kondisi jalanan dan rumah di sekelilingnya yang terendam air akibat luapan Kali Ciliwung sejak hampir satu minggu yang lalu.

Di dalam tenda seluas kurang lebih 10x10 meter persegi itu, Sabtu (24/11/2012) besok, akan terjadi pertautan kasih salah satu warga Kampung Pulo bernama Siti Fatimah (25) dengan pria asal Sunter, Afrizal (28). Namun, kisah bahagia dua anak manusia tersebut dihantui ancaman pihak ketiga, yang tak lain adalah banjir.

"Memang sudah direncanain besok nikahnya. Tapi kan kita enggak tahu kalau ternyata banjir begini. Mudah-mudahan hari ini surut supaya besok sudah kering, enggak banjir," harap Aisah (50), orang tua Siti kepada Kompas.com di sela-sela kesibukannya memasak konsumsi pesta.

Kekhawatiran Aisah beralasan. Di tanah kelahirannya yang kerap disebut kampung banjir tersebut memang selalu digenangi air luapan Kali Ciliwung jika kawasan Bogor diguyur hujan deras. Genangan air pun terus menghantui pikiran janda empat anak itu. Ia tak bisa membayangkan jika pesta pernikahan anaknya dihadiahi air kiriman.

Aisah mengaku telah berkorban banyak untuk melangsungkan pernikahan anaknya yang telah menyebar undangan sebanyak 500 buah itu.

"Ada Rp 20 juta semua. Ada organ tunggalnya juga, dangdutan di tengah banjir. Itu juga ditekan dulu. Beli daging mahal, gantinya ayam. Masakan lain paling soto, gado-gado, gitu saja," tuturnya.

Ketika ditanya mengapa nekat menggelar pesta di tengah kondisi banjir selutut orang dewasa itu, seketika bahu Aisah tampak naik dan turun. Setelah menghela nafas, Aisah mengaku kondisi ekonomi yang kurang membuatnya terpaksa menggelar pernikahan anak di tengah banjir. Tak banyak pilihan lain bagi orang-orang sepertinya.

"Kalau ada biayanya juga kita pesta di gedung. Ini aja utang sama orang-orang. Belakangan baru dibayar. Soalnya ini anak perempuan saya satu-satunya," ujarnya.

Sambil mempersiapkan acara pernikahan yang rencananya belangsung Sabtu siang pukul 11.00 WIB, Aisah terus memantau ketinggian air di Bendungan Katulampa dan Pintu Air Depok melalui perangkat RT. Jika ketinggian air mengkhawatirkan, Aisah dan tetangga terpaksa harus bekerja ekstra keras untuk memindahkan tenda serta perlengkapan pesta ke Pos RW yang terletak persis di tepi Jalan Jatinegara Barat.

"Makanya, mudah-mudahan air aman supaya besok lancar," harap Aisah.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau