Akhir Tahun, Ibu Kota Semakin Rentan Banjir

Kompas.com - 25/11/2012, 02:48 WIB

Jakarta, Kompas - Jakarta dan sekitarnya makin rentan terhadap ancaman banjir. Kondisi itu diperparah dengan kian kritisnya infrastruktur tanggul karena minim pemeliharaan. Sabtu (24/11) malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta melaporkan, ada 10.603 orang yang rumahnya terendam di 12 kelurahan.

Jumat malam, dilaporkan, ada dua tanggul jebol yang mengakibatkan rumah warga di enam RT di Kampung Makasar dan ratusan rumah di wilayah Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, terendam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, curah hujan saat ini rata-rata 250 milimeter (mm), sementara puncak curah hujan diperkirakan akan mencapai 300 mm, Januari 2013.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, di tengah musim hujan ini, diperkirakan gangguan global akibat El Nino cenderung melemah. Itu berarti, musim hujan tahun ini akan berlangsung secara penuh sesuai siklusnya.

Pengamat lingkungan Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono, mengatakan, awal hujan deras di Jakarta dan sekitarnya mengalami pergeseran, dari Desember ke November.

”Kini, pada November hujan lebat sudah merata di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi,” kata Tarsoen, peraih penghargaan Kalpataru bidang Perintis Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, Penyelamat Lingkungan, dan Pembina Lingkungan.

Menurut dia, pergeseran pola hujan itu terjadi karena perubahan kondisi lingkungan.

Sementara itu, daya dukung drainase di Jakarta dan sekitarnya semakin buruk karena banyak mengalami penyempitan, sedimentasi, dan penyumbatan sampah.

Infiltrasi air (air yang meresap) ke dalam tanah sangat rendah karena pemanfaatan lahan di Jakarta sangat tinggi. Akibatnya, air yang melimpas terlalu banyak sehingga menyebabkan banjir.

Korban banjir

Sampai Sabtu malam, di Jakarta, dari 10.603 orang yang rumahnya terendam banjir, 418 orang di antaranya mengungsi ke lima tempat pengungsian. Dari 12 kelurahan yang terendam banjir, 5 kelurahan berada di Jakarta Timur, 4 kelurahan di Jakarta Selatan, dan 3 kelurahan di Jakarta Barat. Genangan tertinggi terjadi di RT 004 RW 008 Kelurahan Kelapa Dua, Jakarta Barat, yang mencapai 150 sentimeter (cm).

”Ada peningkatan curah hujan. Sementara saluran air tidak mampu menampung luapan air,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Arfan Arkilie.

Laporan BPBD DKI Jakarta, Sabtu, menyebutkan, dua tanggul air jebol di Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, dan Kelurahan Makasar, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

”Tim sudah turun ke lokasi, menyelamatkan warga terlebih dahulu. Saat ini tanggul sedang diperbaiki,” kata Arfan.

Tanggul di RW 007 Kampung Makasar, Jakarta Timur, jebol di tengah kondisi hujan deras, Jumat malam. Akibatnya, rumah 2.800 warga yang tersebar di enam RT terendam banjir setinggi 60 cm-180 cm. Sebanyak 800 orang di antaranya mengungsi di sejumlah rumah warga yang tidak kebanjiran, pos RW 007, dan masjid.

Sementara itu, berdasarkan pantauan, ketinggian permukaan kali di tiga titik menunjukkan angka di atas normal. Informasi tersebut dihimpun dari situs http://www.jakarta.go.id dari 14 titik pemantau ketinggian permukaan sungai yang ada di wilayah Jakarta.

Titik tersebut berada di pos pengamatan Angke hulu dengan ketinggian permukaan 200 cm. Sementara di pos pengamatan Manggarai mencapai angka 760 cm (Siaga III atau Waspada) dan pos pengamatan Karet 470 cm dengan status sama.

Sebagian besar titik pengamatan tersebut dalam kondisi hujan dan gerimis. Sementara sebagian yang lain berada dalam tutupan awan mendung. Informasi ini dihimpun Kompas dari situs tersebut pada Sabtu pukul 17.00.

Informasi yang dihimpun dari Traffic Management Centre Polda Metro Jaya menyebutkan, ada genangan di jalan raya wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

Di Jakarta Selatan, genangan terjadi di depan Kantor Pos Jalan Fatmawati setinggi 30 cm, Jalan H Ipin arah Pondok Labu setinggi 100 cm, Jalan Lebak Bulus I setinggi 30 cm, turunan jalan layang Ciputat arah Pamulang 30 cm, dan di Jalan Diyaksa arah Jalan Simatupang 20 sampai 30 cm. Sementara di Jakarta Timur, genangan terdapat di Jalan Ujung Aspal dengan kedalaman 20 cm. Di Jakarta Utara, genangan terjadi di lampu lalu lintas arah WTC Mangga Dua sedalam 40 cm.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku, saat ini Jakarta memang sedang dikepung banjir. Tindakan di lapangan belum dapat dilaksanakan segera karena banjir lebih dulu datang. Jokowi pun mengakui, saat ini tidak hanya Ciliwung dan Pesanggrahan yang meluap, tetapi juga beberapa sungai lain.

”Proyek normalisasi kami percepat untuk sungai-sungai besar. Kalau tidak, setiap tahun akan seperti ini terus,” ujarnya.

Semakin luas

Di Tangerang, banjir semakin luas di Tangerang Selatan serta Kota dan Kabupaten Tangerang, Banten. Ribuan rumah terendam banjir akibat meluapnya Sungai Angke, Cisadane, dan Kali Sabi.

”Pintu air yang dibangun pemerintah tidak berfungsi sehingga saat Kali Sabi meluap, luber ke rumah warga,” kata Achmad Irfan (27), warga Perumahan Taman Cibodas, Uwung Jaya, Cibodas.

Jumat malam, kawasan perumahan tempat tinggalnya terendam banjir hingga 80 cm yang berangsur surut pada Sabtu pagi. Sementara itu, Sabtu, sekitar 200 rumah warga Perumahan Ciledug Indah I, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, terendam banjir.

Air Sungai Angke meluap pada Jumat malam hingga ketinggian air mencapai 280 pada alat ukur di pinggir sungai. Ketinggian air dalam kompleks perumahan itu mencapai 80 cm.

Rudi (47), Ketua RW 006, mengatakan, banjir menjadi langganan warga perumahan itu. Akan tetapi, banjir terparah terjadi pada tahun 2007. ”Saat itu air sampai menutupi atap rumah,” kata Rudi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangerang Arief R Wirmansyah meninjau banjir di Ciledug. ”Kami sudah melakukan antisipasi banjir dengan menyiapkan sumur resapan dan normalisasi Kali Angke. Saat ini, normalisasi sedang dilebarkan menjadi 22 meter dan pekerjaannya belum selesai,” kata Arief.

Sehari sebelumnya, banjir merendam 250 rumah warga Kampung Candulan, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh. Selain rumah warga, banjir juga merendam jalan sebagai salah satu jalan yang menghubungkan Kota Tangerang dengan Jakarta Barat. Sabtu siang, genangan mulai surut di kawasan tersebut.

Wakil Ketua Taruna Siaga Bencana Banten Dadan Suryana mengatakan, sampai Jumat siang, 880 rumah warga terendam banjir di Banten. Di antaranya, Desa Kubang Kampil, Pandeglang sebanyak 311 keluarga atau 1.327 orang dan Kampung Gombang Panimbang Pandeglang sebanyak 250 keluarga atau 450 orang. Di Tangerang Selatan, sebanyak 129 keluarga di Kelurahan Cirendeu, Desa Keranggan, 10 keluarga dan Desa Kademangan, Tangerang Selatan, 180 keluarga. (MDN/PIN/NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau