Eks Pimpinan KPK Meluncur dari Atap Gedung KPK

Kompas.com - 25/11/2012, 14:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas (63) berhasil menuruni Gedung KPK dari lantai teratas dengan lancar. Di tubuhnya terpasang peralatan lengkap melakukan Single Rope Technique (SRT), mulai dari seat harness, carabiner, hingga autostop (alat untuk turun/descending).

Erry juga mengenakan helm berwarna merah yang senada dengan warna pakaiannya. Dari atap gedung tersebut, Erry memasang autostop pada seuntai tali yang telah menjulur dari atap gedung hingga bawah. Tubuh Erry pun lantas bergantungan di tali dan hanya bertumpu pada autostop tersebut.

Dengan percaya diri, Erry perlahan meniti tali untuk turun. Para penonton yang menyaksikan dari bawah ramai-ramai menyemangati Erry. Ia pun sempat berhenti di tengah, menunggu tim dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan Kartini Petulang (Karpet) membentangkan spanduk raksasa "Berani Jujur Hebat" di bagian kanan gedung tersebut.

Tim gabungan ini pun menamakan diri tim Cicak Pemanjat. Cicak sendiri merupakan kepanjangan dari Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi. Setelah spanduk beukuran 20x20 meter berhasil dibentangkan, Erry pun melanjutkan turun hingga dasar halaman samping gedung KPK. Para penonton langsung memberi tepuk tangan meriah padanya. Erry pun mengaku sempat takut.

"Bohong kalau saya bilang tidak takut. Tapi saya kemudian percaya sama teman-teman, dan ada sistem keselamatan. Setelah itu, selebihnya tergantung kita, berani atau enggak," ujarnya.

Bahkan, beberapa jari tangan kirinya terluka karena tergesek dinding gedung. Erry memang tak menggunakan sarung tangan untuk tangan kirinya itu. "Iya, terluka sedikit. Tadi cuma pakai sarung tangan sebelah kanan," terangnya.

Erry juga mengaku sehari sebelumnya berlatih sekitar dua jam bersama teman-teman FPTI dan Karpet. Menuruni gedung KPK adalah pengalaman pertama baginya. Namun, soal melakukan olahraga ekstrem, bukan hal yang pertama. Erry rupanya anggota organisasi pencinta alam Wanadri.

"Ya, pernah, tapi sudah lama banget. Waktu muda dulu, tapi enggak intensif juga," katanya.

Erry berharap aksi membentangkan spanduk "Berani Jujur Hebat" dapat menginspirasi anak muda untuk berperilaku berani dan jujur. Menurut Erry, apa yang dilakukannya hari ini, dapat dilakukan dalam hal pemberantasan korupsi, yaitu butuh nyali atau keberanian, kejujuran, hingga profesional dalam bekerja.

"Memberantas korupsi pun perlu sistemnya yang sudah jelas dan profesional di bidangnya. Jadi nyali, kebersamaan, sistem, kejujuran, dan itu juga tergantung para pimpinan. Ada ketegasan dan berani ambil risiko," paparnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau