Jokowi Putuskan Nasib MRT Hari Ini

Kompas.com - 28/11/2012, 08:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan menggelar pertemuan terbuka bersama pihak PT MRT Jakarta untuk membahas terkait keputusannya apakah akan melanjutkan atau membatalkan megaproyek transportasi massal berbasis rel atau Mass Rapid Transit (MRT).

Pemaparan PT MRT Jakarta itu rencananya digelar di Ruang Rapat Pimpinan (Rapim) pada Rabu ini pukul 14.30 WIB, yang juga akan dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama. "Besok (hari ini) saya putuskan. Semoga besok sudah ada keputusan, jalan atau tidak jalan," kata Jokowi, di Balaikota DKI, Jakarta, Selasa (27/11/2012) malam.

Ia pun mengatakan, keputusan akhir keberlanjutan MRT ada di tangannya karena PT MRT Jakarta merupakan badan usaha milik daerah kepemilikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI. Jokowi juga mengaku telah memiliki data lengkap terkait proyek tersebut.

"Semoga sudah bisa diputuskan karena sekarang saya sudah punya kunci-kuncinya. Saya sudah dapat data dari luar negeri nanti dibandingkan dengan data yang dimiliki PT MRT Jakarta. Mengenai biaya-biayanya, saya sudah punya dan manajemennya seperti apa, saya juga sudah tahu," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh pihak PT MRT Jakarta dalam pemaparan terbuka hari ini. Pertanyaan pertama, adalah bagaimana kalkulasi perhitungan penumpang. Kedua, bagaimana permasalahan pinjaman yang mengikat. Dan yang ketiga, bagaimana hitungan bisnisnya. "Kalau harus disubsidi, subsidinya dijelaskan nanti di depan berapa," ujarnya.

Terkait rencana putusannya hari ini, Jokowi membantah ada kepentingan-kepentingan atau penekanan dari pemerintah pusat. "Enggak ada, saya sudah bertemu dengan pihak yang berkaitan dengan proyek MRT ini. Artinya, hanya menanyakan saja, tidak ada desakan," kata Jokowi.

Oleh karena itu, pemaparan PT MRT Jakarta tersebut akan digelar secara terbuka, yang mengikutsertakan pemerintah pusat, antara lain Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, dan Bappenas.

Selain itu, dalam pertemuan terbuka itu juga akan diundang pakar transportasi dari universitas terkemuka di Indonesia, antara lain dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Trisakti.

Saat ditanyakan mengenai perkiraannya apakah akan melanjutkan megaproyek itu atau tidak, Jokowi mengatakan, dalam pemaparan tersebut juga akan ada penjelasan dari para pakar dan akan ada yang masih menanyakan atau meragukan.

"Kalau goyangannya keras, mungkin bisa. Tapi, kalau hanya kecil saja, saya sudah punya kunci dan hitung-hitungannya kok, sudah kelihatan semuanyalah, saya kan orang bisnis," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, kesepakatan kerja sama pinjaman dengan PT Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk tahap pertama dengan rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Sementara itu, untuk tahap kedua, pemerintah pusat berpotensi mencari yang lain. "Tahap keduanya saja, Detail Engineering Design (DED)-nya saja belum dilakukan," kata Jokowi.

Pembahasan rencana melanjutkan pembangunan MRT terus digodok oleh Pemprov DKI. Pasalnya, sanksi berupa materi dan immateriil sudah menanti apabila pembangunannya molor atau batal dilaksanakan.

Dalam perjanjian pinjaman (loan agreement) tercantum, jika pembangunan MRT terlambat dan tidak sesuai dengan jadwal maka akan dikenakan kewajiban membayar bunga sebesar Rp 800 juta per hari. Bunga itu selanjutnya menjadi beban Pemprov DKI dan pemerintah pusat.

Begitu juga jika Jokowi akhirnya memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan pembangunan MRT dengan alasan biaya yang terlalu mahal. Maka, konsekuensi moral dan nama baik DKI Jakarta serta Indonesia di iklim investasi internasional akan tercemar karena dana pinjaman untuk proyek MRT hanya dibebankan bunga kecil, yakni 0,25 persen berikut jangka waktu pengembalian pinjaman selama 30 tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau