Video Mesum Jungkalkan Petinggi Partai Komunis

Kompas.com - 28/11/2012, 16:21 WIB

CHONGQING, KOMPAS.com — Inilah gadis yang difilmkan sedang berhubungan seks dengan seorang pejabat Partai Komunis China dalam sebuah video yang bocor ke internet. Video itu telah menimbulkan gelombang kejut ke seluruh negeri tirai bambu itu.

Lei Zhengfu, seorang pemimpin wilayah Partai Komunis di Kota Chongqing, China barat daya, dipecat dari jabatannya sebagai sekretaris wilayah partai setelah video itu beredar pada awal bulan ini. Semula dikatakan, perempuan dalam video itu selirnya, tetapi kemudian diketahui bahwa perempuan itu sesungguhnya pekerja seks komersial yang diduga telah disewa sebuah perusahaan konstruksi demi mendapatkan banyak kontrak yang menguntungkan dari posisi Lei.

Gadis itu, Zhao Hongxia, berusia 18 tahun saat video itu direkam pada tahun 2007. Ia menulis dalam sebuah blog bahwa dirinya dibayar sekitar Rp 77 juta untuk tidur dengan Lei. Uang itu kemudian ia gunakan untuk membayar tagihan medis ayahnya.

Zhao kini beruisa 23 tahun dan bekerja sebagai perawat. Dia bilang, dia ditawari uang oleh kepala sebuah perusahaan properti. Menurut media Inggris, Daily Telegraph, Zhao menulis, "Orang itu tanpa basa-basi meminta saya apakah saya ingin menjadi pekerja seks untuk melayani sejumlah pejabat pemerintah yang punya hubungan bisnis dengan dia."

Rekaman tersebut telah menyebabkan skandal baru bagi Partai Komunis China di kota Chongqing yang sebelumnya dipimpin politikus Bo Xilai yang juga telah terjungkal gara-gara skandal. Namun, itu mungkin hanya sebuah awal saja karena seorang mantan wartawan yang membuka skandal itu mengatakan, dia dapat membeberkan sejumlah rekaman serupa yang melibatkan banyak pejabat kota itu dalam waktu dekat.

Partai Komunis China telah terhuyung-huyung akibat skandal yang memicu kejatuhan Bo dan reputasi partai itu di mata publik babak belur.

Istri Bo dinyatakan bersalah telah membunuh seorang pengusaha Inggris, dan Bo sendiri menghadapi tuduhan korupsi serta tuduhan lain, yaitu menghalangi proses peradilan dalam pengungkapan kasus pembunuhan itu.

Kota Chongqing telah digambarkan para jaksa dan media China sebagai penuh dengan penyelewengan kekuasaan, korupsi, dan upaya menutup-nutupi.

Berita tentang rekaman adegan seks itu, yang tampaknya diambil pada tahun 2007, tetapi baru saja bocor bulan ini, muncul saat kepemimpinan China yang baru menggalakan upaya-upaya anti-korupsi di tengah arus deras kasus suap dan korupsi yang ditakutkan telah merusak otoritasnya.

Rekaman itu meledak di internet China pada 20 November ketika screenshot tersebut diunggah oleh mantan wartawan yang berbasis di Beijing, Zhu Ruifeng, ke situs web-nya yang terdaftar di Hong- kong.

Gambar-gambar mesum itu, yang tampaknya diambil secara rahasia  dari sebuah meja di samping tempat tidur, menunjukkan Lei berhubungan seks dengan seorang perempuan. Zhu mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa Zhao, yang wajahnya tidak terlihat di layar, dibayar oleh sebuah perusahaan konstruksi untuk tidur dengan Lei. Perusahaan itu pada gilirannya mendapat imbalan sejumlah kontrak konstruksi. Perusahaan tersebut kemudian mencoba menggunakan rekaman itu untuk memeras Lei agar memberi lebih banyak kontrak.

Zhu mengatakan, ia memperoleh video itu dari orang dalam di Biro Keamanan Umum Chongqing yang memberikan rekaman itu dengan syarat namanya tidak disebutkan. Zhu mengatakan, dia juga diberikan sejumlah rekaman yang isinya melibatkan lima pejabat Chongqing lainnya, tetapi masih berusaha untuk memverifikasi kontennya sebelum membukanya kepada publik. Zhu mengatakan, setelah upaya pemerasan itu, Lei melaporkan kasus itu kepada para pejabat Chongqing sekitar tahun 2009. Akibatnya, bos perusahaan konstruksi itu dipenjara selama satu tahun dan si perempuan  ditahan selama satu bulan.

Kantor berita Xinhua, Selasa, melaporkan, pengawas korupsi Chongqing telah menjanjikan penyelidikan menyeluruh terhadap Lei, yang dipecat pada Jumat lalu, tetapi mengatakan pihaknya belum secara resmi menerima laporan tentang tuduhan terhadap Lei atau terkait rekaman itu.

China Daily dalam tajuknya hari Rabu mengatakan, kasus itu menunjukkan bahwa 'internet dianggap petugas pemberantas korupsi negara itu sebagai sekutu dekat'. Harian itu juga menyerukan transparansi yang lebih besar dalam menangani kasus itu dan kasus-kasus lainnya, dan mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjal terkait kasus itu. "Anehnya, selingkuhannya itu pernah ditahan dan kontraktor itu dipenjara karena memeras Lei," kata media itu. "Apa yang terjadi? ... Ini merupakan pertanyaan penting yang sedang menanti jawaban."

Dengan ditunjuknya Xi Jinping, seorang tokoh yang lebih muda sebagai ketua Partai Komunis dan bakal pemimpin China sebagaimana telah diumumkan  di Beijing pada bulan ini, Pemerintah China ingin menunjukkan bahwa mereka yang berkuasa memang layak menduduki posnya dan bahwa para pelanggar akan didepak keluar. Dalam sambutan pertamanya kepada pers setelah ditunjuk sebagai ketua partai yang baru, Xi Jinping bersumpah untuk memberantas korupsi.

Pengawas korupsi partai, Senin kemarin, menggarisbawahi toleransi nol bagi korupsi. "Tak ada tempat bagi tokoh-tokoh yang korup untuk menyembunyikan diri di dalam partai," kata Komisi Sentral untuk Inspeksi Disiplin dalam sebuah pernyataan yang dikutip kantor berita Xinhua.

Namun, banyak orang China sinis terutama terkait dengan sejumlah tuduhan terhadap para petinggi partai. Banyak orang berpikir Bo tidak lebih kotor daripada kebanyakan politikus China dan bahwa ia digulingkan bukan karena tingkah laku korupnya, tetapi karena ia kalah dalam  perebutan kekuasaan.

Zhu, wartawan yang membongkar kasus Lei, mengatakan, faktanya situs web-nya belum diblokir. Itu mungkin  pertanda bahwa pemerintah lebih serius daripada pada masa lalu dalam menghadapi korupsi. "Mungkin apa yang kita lihat adalah bahwa para pemimpin baru barangkali sedang mengambil langkah-langkah menuju penegakan konstitusi, sepenggal fajar baru," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau