Pelajaran Bahasa Inggris SD Perlu Disempurnakan

Kompas.com - 28/11/2012, 23:17 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Materi pelajaran bahasa Inggris pada kurikulum sekolah dasar (SD) pada tahun ajaran 2013-2014 perlu disempurnakan, sehingga siswa dapat lebih mudah mempelajari bahasa internasional itu. Demikian dikata Sosiolog universitas Sumatera Utara, Prof Dr Badaruddin, Rabu.

Pendapat tersebut disampaikannya di Medan, Rabu, karena adanya wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghilangkan mata pelajaran bahasa inggris untuk siswa SD dari kurikulum wajib.

Hal tersebut diberlakukan dengan alasan untuk lebih menguatkan penguasaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebelum anak-anak diperkenalkan dengan bahasa asing.

Badaruddin mengatakan, ia tidak sependapat dengan rencana Kemendikbud yang tidak memasukkan lagi pelajaran Bahasa Inggris pada kurikulum SD.

Hal tersebut, menurut dia, jelas akan membuat kemunduran bagi dunia pendidikan di negeri ini. "Program pendidikan yang menghapus bahasa Inggris harus dihentikan, dan masalah ini akan menimbulkan terjadinya pro dan kontra," ucap Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) itu.

Dia mengatakan, Kemendikbud perlu memikirkan secara arif dan bijaksana sebelum membuat suatu keputusan, misalnya seperti wacana mengenai penghapusan bahasa Inggris pada kurikulum SD tersebut.

Bahkan, jelasnya, alasan Kemendikbud menghapus bahasa inggris untuk lebih menguatkan penguasaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, tidak dapat diterima.

"Apapun alasannya, pembelajaran bahasa inggris di kalangan SD harus tetap dipertahankan dan dilestarikan, dan jangan sampai dihilangkan begitu saja. Ini akan merugikan pelajar SD sebagai generasi muda harapan bangsa," ucap dia.

Apalagi, katanya, bahasa inggris adalah termasuk bahasa pergaulan internasional atau "bahasa modren" dan wajib dikuasai.
Oleh karena itu, jelasnya, sejak dibangku SD, bahasa Inggris perlu dipelajari dan diperkenalkan secara luas, tujuannya adalah agar mudah dikuasai.

Sebab, setiap orang yang menguasai secara aktif bahasa inggris, berarti dia akan mengetahui dengan luas ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sekarang ini, buku-buku ilmu pengetahuan sudah banyak yang berbahasa Inggris.

"Jadi, untuk mengetahui dan mempelajari Iptek tersebut, diharuskan menguasai bahasa inggris dengan baik dan benar. Bila tidak mengetahui bahasa asing tersebut, jelas akan tertinggal jauh," katanya.

Lebih lanjut Badaruddin menjelaskan, para pelajar SMP, SMA dan mahasiswa juga banyak mengikuti les privat bahasa Inggris untuk lebih memperlancar mereka dalam kemampuan menggunakan bahasa internasional tersebut.

"Jadi, saat ini tidak ada alasan bagi orang untuk tidak bisa berbahasa Inggris, dan ke depan seorang yang melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS) harus bisa bahasa Inggris. Ini adalah era globalisasi dan tuntutan kemajuan zaman yang semakin maju," kata Badaruddin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau