Pria Ini Tewas di Lokalisasi Sebelum Bercinta

Kompas.com - 28/11/2012, 23:21 WIB

KUPANG, KOMPAS.com — Agustinus Hun (56) tewas dalam kondisi mulut dan hidung berbusa di lokalisasi Karang Dempel, Kelurahan Alak, Rabu (28/11/2012) pukul 14.00 WITA.

Warga Kelurahan Nunbaun Delha, Kota Kupang, NTT, meninggal saat hendak melakukan hubungan intim dengan SM (47), seorang wanita pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi tersebut.

Menurut SM, penghuni kamar nomor 51 di lokasi prostitusi milik Jitro, korban yang berasal dari Semau, Kabupaten Kupang, datang sekitar pukul 14.00 WITA.

Setelah berada di dalam kamar, kata SM, Agustinus langsung membuka pakaian. Setelah itu, ia menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Agustinus kemudian berbaring di atas tempat tidur dalam posisi terlentang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek warna biru.

"Setelah dari kamar mandi, dia mengeluh tengkuknya terasa tegang dan minta dipijat. Menggunakan minyak tawon, saya memijatnya. Beberapa saat kemudian, keluar busa putih dari hidung dan mulutnya," tutur SM.

Melihat kondisi korban yang mulai tidak sadarkan diri, SM memangil Jitro, pemilik lokalisasi, untuk memberikan pertolongan.

"Kami belum melakukan hubungan intim. Memang dia sudah jadi langganan saya," ungkap wanita asal Bojonegoro tersebut.

Kapolsek Alak AKP Marten Kana ketika ditemui di tempat kejadian perkara (TKP) menjelaskan, sesuai prosedur, jenazah korban akan dibawa ke RSUD Prof Dr Johanes Kupang untuk diotopsi.

"Saya belum tahu apa penyebab korban tewas. Karena itu, jenazah korban harus dibawa ke RSUD untuk diotopsi," ujar Marten.

Sementara, itu meninggalnya Agustinus menambah panjang daftar pengunjung yang tewas di kamar milik wanita PSK di lokasi tersebut. Menurut Jitro, pengunjung yang meninggal di lokalisasi itu sudah tiga orang.

"Tahun lalu, seorang pengunjung tewas di atas perut saat sedang berhubungan intim dengan penghuni," kata Jitro.

Sementara seorang pengunjung lainnya, ungkap Jitro, meninggal sebelum melakukan hubungan intim.

"Kami enggak tahu mereka meninggal karena apa. Apakah jantungan atau mengonsumsi obat-obatan sebelum berhubungan badan," ucapnya.

Sebelum Agustinus meninggal, Jitro sempat berpapasan dengan korban. Ia menjelaskan, setiap hari, Agustinus menjual mangga di tempat itu.

"Saya sempat tegur korban, kenapa tidak jualan mangga. Dia menjawab, tidak jualan karena ingin istirahat. Selama ini, dia selalu jualan mangga di kompleks ini," terangnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau