Dampak bencana

Korban Longsor Segera Direlokasi

Kompas.com - 29/11/2012, 05:28 WIB

Cilacap, Kompas - Pemerintah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, segera merelokasi 55 keluarga korban bencana tanah longsor di Desa Ujungbarang, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. Lokasi permukiman warga dinilai sangat rawan tertimbun longsoran tebing bukit di atasnya berupa tanah berstruktur sangat labil.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap Wasi Ariyadi, Rabu (28/11), mengatakan, pihaknya menyiapkan lahan berjarak 2,5 kilometer dari lokasi longsor. Tanah itu menurut rencana akan ditukargulingkan dengan lahan Perum Perhutani.

”Dibutuhkan sekitar 2 hektar untuk relokasi 55 keluarga. Tanah yang akan ditinggalkan warga di permukiman asal sekitar 20 hektar. Itu nanti yang akan ditukar guling,” katanya.

Tanah longsor yang melanda Dusun Ciawar, Desa Ujungbarang, pada Kamis (22/11) malam, menyebabkan 55 keluarga, terdiri atas 182 jiwa, terpaksa mengungsi ke dusun tetangga. Longsor juga memutus akses ke desa terdekat akibat ambrolnya 4 jembatan dan 2 akses jalan menuju wilayah tersebut.

Akibat bencana ini, satu orang meninggal dunia tertimbun longsoran, empat rumah roboh, sembilan rumah mengalami rusak berat, serta 43 rumah rusak sedang dan berat.

Kepala Desa Ujungbarang Tarkono membenarkan keinginan warga untuk direlokasi. Dia menyampaikan permintaan warga sejak awal pekan ini langsung kepada Bupati Cilacap Tatto Suwarto.

Titik paling rawan longsor, lanjut Tarkono, adalah Grumbul Nyagak di Dusun Ciawar. Itu karena, tebing di atas permukiman rawan pergerakan tanah dan strukturnya mudah longsor, terutama jika diguyur hujan deras.

Kerugian akibat tanah longsor di Majenang ditaksir mencapai Rp 408 juta. Namun, secara keseluruhan bencana banjir dan longsor menimbulkan kerugian material sekitar Rp 4,1 miliar.

Sementara itu, petani teh di Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diminta untuk berhati-hati bekerja pada musim hujan. Longsor kecil masih sering terjadi akibat dipicu hujan deras di area perkebunan teh beberapa minggu terakhir

”Tanah di perkebunan teh mudah longsor karena gembur,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya Kundang Sodikin.

Berdasarkan data Kecamatan Bojonggambir, luas lahan teh sekitar 8.000 hektar atau sekitar 70 persen dari total lahan di kecamatan itu. Lahan yang gembur dibutuhkan petani untuk memicu hasil panen teh terbaik.

Evakuasi seorang korban meninggal dunia akibat tertimpa batu besar di Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, belum membuahkan hasil. Ulum (19) adalah satu dari lima warga Taraju yang tewas akibat longsor dinding Air Terjun Cipalasari, empat hari yang lalu. Tim masih berupaya menyingkirkan batu besar yang diduga mengimpit korban.

Kota Bandung, Jawa Barat, juga tergolong rawan bencana. Kemarin, hujan deras bercampur angin mengakibatkan jalan tergenang di beberapa titik. Sebatang pohon mahoni juga roboh menimpa rumah akibat angin kencang.

Tampak genangan air setinggi lebih kurang 50 sentimeter di jalan protokol seperti Jalan Djundjunan yang menjadi pintu masuk Kota Bandung dari Tol Purbaleunyi. (GRE/CHE/ELD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau