Klub elite

Gaya Evolusi Milan di Bursa Transfer

Kompas.com - 29/11/2012, 06:15 WIB

Era tahun 1990-an, klub Italia, AC Milan, punya julukan hebat: ”Tim Impian” atau ”The Dream Team”. Istilah yang saat itu terdengar baru dalam dunia sepak bola diberikan kepada Milan karena mereka mampu mengumpulkan pemain-pemain bintang dunia dengan banderol transfer mahal.

Sebut saja di antaranya trio Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit. Atau nama lain seperti Zvonimir Boban, Dejan Savicevic, Gianluigi Lentini, Jean-Pierre Papin, dan George Weah. Hadirnya pemain-pemain hebat ini benar-benar menyenangkan pendukung Milan karena prestasi klub di Italia ataupun di kancah kompetisi Eropa juga ikut mentereng.

Sampai-sampai ada pemeo yang dikenal kalangan milanisti (sebutan pendukung Milan): siapa pun pemain yang diinginkan Silvio Berlusconi (pemilik Milan) pasti akan dibeli.

Namun, masa-masa indah itu harus diakui sudah lama berlalu. Krisis ekonomi global ikut memengaruhi kondisi keuangan klub. Untuk mencegah kebangkrutan, klub harus menghemat anggaran, termasuk pembelian pemain.

Penjualan Andriy Shevchenko ke Chelsea atau Ricardo Kaka ke Real Madrid menjadi titik balik kebijakan transfer pemain yang dilakukan Milan. Padahal, dalam sejarah klub, tidak pernah terjadi Milan menjual pemain bintangnya. Alasan manajemen klub sederhana. Selain untuk menutup utang, hasil penjualan pemain juga untuk biaya operasional klub. Kebijakan ini tentu saja membuat gerah suporter. Apalagi, dampaknya sampai pada penurunan prestasi, seperti terjadi pada musim kali ini.

Milan menjual Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic ke klub Liga Perancis, Paris Saint-Germain. Dari penjualan pemain itu, selain mendapat dana segar 60 juta euro (Rp 743 miliar), Milan bisa menghemat 150 juta euro dari gaji kedua pemain itu.

Untuk pembelian pemain, Milan sudah berevolusi dari gaya pembelian gila-gilaan sampai peminjaman pemain dengan tambahan klausul pembelian permanen. Cara lain, merekrut pemain yang statusnya bebas transfer sehingga klub tak perlu membayar uang transfer, seperti yang dilakukan untuk mendapatkan Riccardo Montolivo dan Bakaye Traore.

Wakil Presiden Milan Adriano Galliani mengungkapkan, untuk aktivitas di bursa transfer, Milan lebih dulu akan menjual, baru kemudian membeli. ”Kami punya 30-32 pemain saat ini. Ketika skuad sudah tereduksi, kami akan membeli,” ujarnya.

Entah apakah gaya manajemen ini bisa berhasil. Yang pasti, milanisti sudah gerah dengan anjloknya prestasi klub.

(AFP/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau