Era tahun 1990-an, klub Italia, AC Milan, punya julukan hebat: ”Tim Impian” atau ”The Dream Team”. Istilah yang saat itu terdengar baru dalam dunia sepak bola diberikan kepada Milan karena mereka mampu mengumpulkan pemain-pemain bintang dunia dengan banderol transfer mahal.
Sebut saja di antaranya trio Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit. Atau nama lain seperti Zvonimir Boban, Dejan Savicevic, Gianluigi Lentini, Jean-Pierre Papin, dan George Weah. Hadirnya pemain-pemain hebat ini benar-benar menyenangkan pendukung Milan karena prestasi klub di Italia ataupun di kancah kompetisi Eropa juga ikut mentereng.
Sampai-sampai ada pemeo yang dikenal kalangan milanisti (sebutan pendukung Milan): siapa pun pemain yang diinginkan Silvio Berlusconi (pemilik Milan) pasti akan dibeli.
Namun, masa-masa indah itu harus diakui sudah lama berlalu. Krisis ekonomi global ikut memengaruhi kondisi keuangan klub. Untuk mencegah kebangkrutan, klub harus menghemat anggaran, termasuk pembelian pemain.
Penjualan Andriy Shevchenko ke Chelsea atau Ricardo Kaka ke Real Madrid menjadi titik balik kebijakan transfer pemain yang dilakukan Milan. Padahal, dalam sejarah klub, tidak pernah terjadi Milan menjual pemain bintangnya. Alasan manajemen klub sederhana. Selain untuk menutup utang, hasil penjualan pemain juga untuk biaya operasional klub. Kebijakan ini tentu saja membuat gerah suporter. Apalagi, dampaknya sampai pada penurunan prestasi, seperti terjadi pada musim kali ini.
Milan menjual Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic ke klub Liga Perancis, Paris Saint-Germain. Dari penjualan pemain itu, selain mendapat dana segar 60 juta euro (Rp 743 miliar), Milan bisa menghemat 150 juta euro dari gaji kedua pemain itu.
Untuk pembelian pemain, Milan sudah berevolusi dari gaya pembelian gila-gilaan sampai peminjaman pemain dengan tambahan klausul pembelian permanen. Cara lain, merekrut pemain yang statusnya bebas transfer sehingga klub tak perlu membayar uang transfer, seperti yang dilakukan untuk mendapatkan Riccardo Montolivo dan Bakaye Traore.
Wakil Presiden Milan Adriano Galliani mengungkapkan, untuk aktivitas di bursa transfer, Milan lebih dulu akan menjual, baru kemudian membeli. ”Kami punya 30-32 pemain saat ini. Ketika skuad sudah tereduksi, kami akan membeli,” ujarnya.
Entah apakah gaya manajemen ini bisa berhasil. Yang pasti, milanisti sudah gerah dengan anjloknya prestasi klub.