JAKARTA, KOMPAS.com — Riset BNI Treasury memperkirakan nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat konsolidatif dengan kecenderungan melemah, Kamis (29/11/2012). Permintaan valuta asing oleh importir menjelang akhir bulan menjadi salah satu faktor penekan.
Kemarin, rupiah ditutup menguat di level Rp 9.600 per dollar AS dari saat dibuka di level Rp 9.605 per dollar AS. Rupiah bergerak di kisaran Rp 9.595-9.616 per dollar AS. Ditutupnya Indeks Harga Saham Gabungan di zona merah menambah tekanan terhadap rupiah, kemarin sore.
Bank Indonesia terlihat aktif melakukan intervensi di pasar valas, kemarin, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Non delivery forward 1 bulan di pasar offshore pagi ini rupiah dibuka menguat di level Rp 9.640-9.660. Hal itu diharapkan akan mengurangi tekanan terhadap rupiah pagi ini di tengah tingginya permintaan valas oleh importir menjelang akhir bulan.
Di dalam negeri, permintaan valas oleh importir diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia memang berasal dari kebutuhan masyarakat yang perannya mencapai lebih dari 50 persen dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan ini tidak hanya dipenuhi dari dalam negeri, tetapi juga berasal dari impor, baik untuk keperluan impor BBM maupun impor barang modal dan barang konsumsi lainnya. Bank Indonesia diproyeksikan masih akan terus masuk ke pasar valas untuk meredakan tekanan terhadap rupiah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang