Anas Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

Kompas.com - 01/12/2012, 04:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Senior (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, tindakan Anas Urbaningrum yang memediasi permintaan maaf Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada keluarga besar KH Abdurrahman Wahid dan warga Nahdliyin menjadi keuntungan politis tersendiri bagi Partai Demokrat.

"Langkah Anas, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," kata Siti di Jakarta, Jumat (30/11/2012).

Siti menjelaskan, figur Sutan di mata keluarga Gus Dur dan Nahdilyin teramat jauh. Hal itu berbeda dengan Anas. Figur Anas sangat dekat karena merupakan orang Nahdilyin juga. Sekaligus, permintaan maaf Sutan menjadi penghormatan kepada almarhum Gus Dur.

"Bagi keluarga Gus Dur, orang yang mau minta maaf itu poin tersendiri. Bukan hanya untuk keluarga Gus Dur, tapi juga Gusdurian. Ini adalah lucky buat Demokrat," tandasnya.

Permintaan maaf Sutan, lanjut Siti, merupakan pintu masuk bagi Anas mendekati keluarga Gus Dur. Hal itu secara politis tidak dapat dilepaskan dari anjloknya elektabilitas Demokrat.

Sebab itu, merapat kepada keluarga Gus Dur adalah salah satu pilihan politis. Dengan mendekat kepada keluarga Gus Dur, pungkas Siti, Demokrat dapat mendulang banyak suara di pemilu legislatif tahun depan.

Sebelumnya, Sutan akhirnya meminta maaf kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) terkait pernyataannya yang dianggap menghina almarhum Gus Dur.

"Jika ada yang kurang berkenan, segera saya ralat sekaligus mohon maaf. Semoga ini bisa berdampak positif agar tidak terjadi ketegangan, terutama agar keluarga besar NU dan Partai Demokrat tidak ada gesekan," kata Sutan di kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2012).

Sutan mengatakan, permintaan maaf baru disampaikannya hari ini karena harus berkonsultasi dengan internal Partai Demokrat. Ia tak ingin ada salah tafsir atas pernyataannya.

"Saya berkata jujur, dibilang salah. Serbasalah. Saya diam, dibilang sombong. Makanya saya konsultasi dulu," katanya.

Dalam sebuah diskusi, Sutan menyebutkan bahwa KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI, lengser karena skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate. Pernyataan ini mengundang kemarahan dari kalangan Nahdliyin dan pengagum Gus Dur. Hal inilah yang memicu protes warga Nahdliyin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau