Krisis suriah

Gelombang Kekerasan Ancam Turki dan Lebanon

Kompas.com - 04/12/2012, 02:26 WIB

ANKARA, SENIN - Gelombang kekerasan akibat perang saudara di Suriah mengancam Turki dan Lebanon setelah dua insiden pada hari Minggu dan Senin (3/12) terjadi di dekat perbatasan dengan dua negara tersebut.

Pasukan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad kembali melancarkan serangan udara ke posisi pasukan oposisi di kota Ras al-Ain di dekat perbatasan dengan Turki, Senin. Dua bom dilaporkan meledak hanya sekitar 300 meter dari perbatasan dengan Turki.

Pihak Turki langsung bereaksi dengan menembakkan meriam antipesawat dari kota Ceylanpinar dan menerbangkan lebih dari satu pesawat tempur F-16 dari pangkalan mereka di Diyarbakir, Turki tenggara, untuk mencegah pesawat-pesawat Suriah melanggar perbatasan.

Satu peluru meriam dari Suriah juga mendarat di Ceylanpinar meski belum jelas benar apakah penembaknya pasukan rezim atau oposisi di Suriah.

Organisasi Pemantau HAM Suriah (SOHR) menyebutkan, serangan udara itu menyasar sebuah gedung di Ras al-Ain yang telah dikuasai oposisi. Sebanyak 12 orang dilaporkan tewas dalam serangan itu, dan sekitar 30 orang terluka. Sebagian korban luka dilarikan ke rumah sakit di Ceylanpinar, Turki.

Sehari sebelumnya, kontak senjata lintas perbatasan terjadi di dekat Desa Qaa di Lembah Bekaa, Lebanon. Kantor berita Lebanon National News Agency mengabarkan, tentara Lebanon yang ditempatkan di perbatasan balas menembak setelah ditembak dari arah Suriah oleh sekelompok ”pria bersenjata”.

Dalam konflik berkepanjangan yang sudah berlangsung 20 bulan di Suriah, gelombang kekerasan telah meluber ke sejumlah negara tetangga, seperti Turki, Lebanon, dan Israel. Hal itu makin memicu kekhawatiran konflik internal tersebut bisa meluas menjadi perang di kawasan.

Ditanggapi positif

Turki sendiri telah secara resmi meminta bantuan NATO untuk memasang sistem rudal antirudal Patriot di sepanjang perbatasan dengan Suriah. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi serangan rudal Suriah.

Permintaan Turki tersebut dikabarkan sedang dipertimbangkan secara positif oleh negara- negara anggota lain Pakta Pertahanan Atlantik Utara tersebut. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengharapkan permintaan Turki itu akan disetujui dalam pertemuan NATO di Brussels, Belgia, pekan ini.

Tiga negara anggota NATO, yakni AS, Jerman, dan Belanda, juga sudah siap menyumbangkan rudal-rudal Patriot mereka untuk dipasang di Turki. Meski demikian, butuh proses beberapa minggu lagi sebelum rudal-rudal itu dipasang.

Hillary juga kembali mewanti- wanti Suriah agar tidak menggunakan senjata kimianya guna melawan oposisi. Suriah diyakini memiliki ratusan rudal balistik yang membawa hulu ledak senjata kimia.

(Reuters/AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau