Dalam Impitan Ekonomi, Anjeli Terus Berprestasi

Kompas.com - 04/12/2012, 06:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lemari dan meja dalam rumah di Jalan Sawo, Gandul, Cinere, Depok, itu tak cukup untuk menampung atau memajang ratusan, bahkan mungkin ribuan, piala atau piagam yang telah diraih Anjeli Elvari (11). Kardus-kardus berukuran jumbo pun menjadi pembungkus talenta berharga anak yatim ini.

Baik Anjeli maupun Elvira, ibunya, tak mampu lagi menghitung jumlah penghargaan berwujud piala, apalagi ditambah plakat dan sertifikat. Sejak pertama kali meraih piala sebagai juara dalam lomba mewarnai untuk level playgroup pada usia tiga tahun, penghargaan demi penghargaan terus mengalir ke tangan Anjeli hingga sulit terekam utuh di benak mereka.

"Mungkin sudah seribuan jumlahnya ya. Kebanyakan sih dari melukis, tapi banyak juga dari lomba bidang studi, cerdas cermat, juga dari renang," tutur Anjeli saat ditemui Kompas.com di kediaman keluarganya, Gandul, Cinere, Depok, Senin (3/12/2012) malam.

Untuk level nasional saja, Anjeli telah empat kali mewakili Provinsi DKI Jakarta dalam enam bulan terakhir. Yang pertama dalam Festival Lomba Seni (FLS) Siswa Nasional di Lombok pada Mei lalu. Saat itu, siswa kelas V SD ini mempresentasikan tujuh lembar cerita bergambar. Dalam lomba Cipta Seni Kepresidenan di Istana Cipanas pada September lalu, DKI Jakarta kembali memilih Anjeli sebagai perwakilan provinsi.

Gadis kecil itu kembali diutus menjadi perwakilan Ibu Kota dalam lomba cerdas cermat Ki Hajar yang digelar EduTV di Hotel Aston Ancol pada Oktober 2012. Yang terakhir, Anjeli bersama tiga rekannya mewakili Jakarta dalam lomba lukis di Galeri Nasional, Jakpus.

"Walaupun tidak semuanya bisa menang, tapi saya bisa banyak belajar dari setiap perlombaan," ujar Anjeli memaknai rangkaian prestasinya.

Empat kali menjadi wakil DKI Jakarta dalam lomba melukis dan tes kognitif dalam enam bulan terakhir menjadi bagian kecil dari prestasi yang ditorehkan siswi kelahiran 9 September 2001 ini.

Anjeli bukanlah mutiara yang terpendam dalam lumpur. Bakatnya telah tercium sejak dini oleh ibunya yang berlatar belakang pendidik. Bakatnya terus diasah dan diarahkan sesuai dengan minat besarnya.

Anjeli lebih dikenal sebagai pelukis belia berbakat. Semuanya berawal dari niat ibunya mendatangkan guru lukis privat bagi kakaknya, Suhail Elvari (16). Anjeli kecil yang saat itu masih berusia tiga tahun justru terlihat lebih aktif bermain dengan material lukisan. "Kayaknya dari umur tiga tahun saya sudah suka utak-atik pensil, krayon, dan kertas gambar abang," ujar Anjeli.

Keaktifan putri bungsunya menggores-goreskan krayon tak luput dari pantauan Elvira. Supriyadi, guru melukis kakak Anjeli, kemudian diminta untuk memandu putrinya. Arahan guru yang diikuti motivasi besar Anjeli terus menyepuh bakat emas yang dimiliki si balita hingga kini beranjak remaja dengan menggenggam segudang prestasi.

Dalam keterbatasan ekonomi

Sejak meninggalnya sang ayah, Amsori Rahim, pada 20 November 2011, Anjeli bersama ibu dan dua kakaknya pindah rumah dari Cipete, Jakarta Selatan, ke wilayah Gandul di Depok. Rumah dua lantai warisan orangtua Amsori itu tidak menampakkan kondisi impitan ekonomi yang dialami oleh keluarga tersebut. Namun, kondisi piala-piala yang bertimbunan di dalam kardus dan diletakkan seadanya memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi keluarga kecil ini. "Saya sudah lama berhenti mengajar sebagai guru SD," ujar Elvira.

Setelah kepergian suaminya, Elvira membesarkan anak-anaknya dalam keterbatasan ekonomi. Ia membiayai hidup keluarga dengan menjadi guru privat di rumah dan menyiapkan katering untuk 35 teman sekolah Anjeli. "Anak saya hanya bisa makan makanan hangat. Karena itu, tiap siang saya nganterin makanan hangat ke sekolah. Yah, namanya rezeki, satu per satu teman-teman Anjeli juga pada pesan. Akhirnya, saya siapkan juga untuk teman-temannya. Alhamdulillah, sekarang jumlahnya sudah 35 orang," tutur Elvira.

Yang paling disyukuri oleh Elvira bahwa dia dikarunia tiga anak yang bertalenta istimewa. Dengan prestasi yang diperolehnya, Anjeli dan dua saudaranya bebas biaya sekolah, meskipun semuanya berpendidikan di sekolah yang berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Walau demikian, Elvira tetap harus bekerja keras memikirkan urusan buku-buku pelajaran, praktikum, dan aneka kebutuhan pelajaran dan ekstrakurikuler yang dituntut sekolah. Belum lagi kebutuhan pengembangan bakat anak-anaknya. "Biaya untuk perlengkapan melukis Anjeli, latihan renang, sampai kursus musik kakaknya harus tetap saya perhitungkan," lanjut Elvira.

Meski beban itu bertumpu di pundaknya sebagai kepala keluarga, Elvira tidak patah arang. Ia selalu dikuatkan oleh pesan mendiang suaminya sebelum meninggal dunia. "Lebih baik berhenti membeli obat saya daripada menghentikan kursus anak kita," kata Elvira menirukan pesan suami sekaligus teman bermainnya sejak kecil.

Perjuangan sang ibu tidak sia-sia. Dalam keterbatasan itu, ia tetap bangga menyaksikan prestasi putra-putrinya. Rangkaian penghargaan yang telah diraih memungkinkan Anjeli menjabat tangan orang-orang terkenal di negeri ini. Dua di antaranya dipajang ibunya sebagai penambah motivasi belajar siswi SD Pondok Labu 11, Jakarta Selatan. Yang pertama adalah foto Anjeli saat bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan yang kedua adalah fotonya bersama Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta yang baru saja purnatugas.

"Bangga banget biar cuma salaman dan dikasih senyum," ujar Anjeli ketika ditanyai perasaannya pada kedua momen tersebut. Anjeli pun bertekad tak akan berhenti berprestasi dalam kondisi yang ia alami sekarang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau