Ekspedisi cincin api

Wartawan "Kompas" Terima Anugerah Adiwarta

Kompas.com - 05/12/2012, 09:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wartawan Kompas Ahmad Arif (kanan) menerima penghargaan Anugerah Adiwarta 2012 untuk kategori cetak/online liputan kemanusiaan bidang lingkungan dengan judul tulisan "Sulawesi: Jantung Nusantara yang Terkoyak" di Jakarta, Selasa (4/12/2012) malam.

Tulisan itu merupakan laporan Tim Ekspedisi Cincin Api edisi Sulawesi yang ditulis Ahmad Arif bersama Amir Sodikin, Azwin Rizal Harahap, dan Laksana Agung Saputra.

Anugerah Adiwarta 2012 digelar di Ballroom Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (4/12/2012) malam.

Selain Ahmad Arif, dari Kelompok Kompas Gramedia yang mendapat penghargaan Adiwarta 2012 adalah fotografer Kompas.com Roderick Adrian Mozes dengan foto berjudul "Kesaksian Angelina Sondakh".  Kompas TV juga mendapat anugerah Adiwarta untuk dua karyanya.

Untuk diketahui, Ekspedisi Cincin Api Kompas berlangsung satu tahun penuh dengan menghasilkan 12 laporan. Ekspedisi dilakukan dengan mendaki sejumlah gunung berapi dan menyelami laut dari Aceh, Danau Toba, pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa hingga Flores, Maluku, dan Sulawesi.

Selain dimuat di Harian Kompas, laporan Ekspedisi Cincin Api juga diturunkan di Kompas.com (online), Kompas TV, serta di tablet dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris.

Anugerah Adiwarta merupakan ajang penghargaan bergengsi dan independen yang didukung oleh jajaran dewan juri yang kompeten di bidangnya, yang ditujukan bagi insan media Tanah Air dengan tujuan untuk memberikan motivasi dan apresiasi agar dapat terus meningkatkan kualitas karyanya.

Kategori yang dilombakan dalam Anugerah Adiwarta adalah Cetak/Online, Foto Berita, dan Televisi yang para pemenangnya akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 18 juta. Pada kategori Cetak/Online, terdapat dua sub kategori, yaitu Liputan Investigatif akan mendapatkan Rp 27 juta dan Liputan Kemanusiaan mendapatkan Rp 18 juta.

Gelak tawa

Mengenai fotonya yang mendapatkan penghargaan Adiwara itu, fotografer Kompas.com Roderick Adrian Mozes menyatakan, dirinya sebenarnya tidak sangat menjagokannya.

"Foto itu diambil pada saat sidang Nazaruddin dalam kasus wisma atlet 2011 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Saat itu Angelina dalam kesaksiannya sering mengatakan lupa dan menyangkal BAP. Kesaksian Angelina membuat Nazaruddin, pengacara, dan pengunjung sidang, termasuk wartawan sering tertawa. Melihat kondisi tersebut, aku menunggu Nazaruddin tertawa. Pada saat tertawa, jadilah foto itu dan kebetulan Elsa Syarief dan Hotman Paris Hutapea (pengacara Nazaruddin) juga tertawa," terang Roderick.

"Sebenarnya aku enggak ngejagoin foto ini, tapi pada akhirnya aku kirim karena terlihat lucu," ujar Roderick.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau