Pasca-Amuk Massa, Manokwari Masih Mencekam

Kompas.com - 05/12/2012, 15:45 WIB

MANOKWARI, KOMPAS.com — Pascatewasnya Timotius AP, narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Manokwari, Selasa (4/11/2012) sore, di Kampung Maripi Pantai akibat ditembak aparat kepolisian setempat, Rabu (5/11/2012), dua pos polisi dan satu polsek dibakar massa. Hingga kini, Manokwari masih mencekam.

Selain membakar dua pos polisi dan satu polsek, massa yang kecewa atas tindakan aparat kepolisian ini memblokade sejumlah jalan utama di Manokwari serta membakar ban bekas. Akibat aksi massa tersebut, sejumlah toko dan pusat perbelanjaan di Manokwari tutup.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, massa yang umumnya merupakan kerabat korban penembakan awalnya mengarak keranda peti mati menuju Mapolres Manokwari untuk dikembalikan sebagai bentuk penolakan peti yang diberikan polisi. Aparat kepolisian yang disiagakan di depan kantor Gubernur Papua Barat mencoba menghalangi massa. Akibat halangan polisi, massa pun bertindak anarkistis dengan merusak sejumlah fasilitas umum serta membakar kantor Polsek Kawasan Pelabuhan Laut Manokwari. Polisi akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.

Sebelumnya, massa juga membakar Pos Polisi Sanggeng yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Sanggeng, Manokwari, serta pos polisi lalu lintas di Jalan Merdeka, Manokwari. Aksi warga ini sebagai bentuk protes terhadap tindakan aparat kepolisian yang menembak mati Timotius. Sebab, menurut warga, Timo—panggilan akrab Timotius—bukanlah teroris yang harus ditembak mati, melainkan hanya pelaku kriminal biasa. Sementara pelaku kriminal dengan kasus yang lebih besar justru dibiarkan bebas oleh polisi.

Setelah aksi anarkistis massa ini, kondisi Manokwari, khususnya di sejumlah tempat, masih mencekam. Warga belum bisa beraktivitas ke luar rumah. Sementara sejumlah pertokoan masih belum buka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau