Sepak bola

Mendieta, Pelajaran Teramat Pahit

Kompas.com - 06/12/2012, 01:42 WIB

Oleh  Gatot widakdo dan Amanda Putri

”Kawan, kapan gajian?” Ungkapan itu kerap disampaikan Diego Mendieta kepada kawan- kawan yang menjenguknya di Rumah Sakit dr Moewardi, Solo, Jawa Tengah, Minggu (2/12). Mendieta, si pesepak bola yang memperkuat Persis Solo itu, ingin segera pulang dan bertemu keluarganya di Paraguay.

Namun, belum sempat mendapat jawaban, Mendieta ”berpulang” untuk selama-lamanya, Senin (3/12) malam.

Teman sesama pemain di klub Persis Solo, Ndaru Tri Laksana, mengatakan, Mendieta merindukan sang istri, Valeria Alvarez Ibanez, dan dua anak mereka, Ciello (4) dan Gaston (2). Foto mereka terpajang dalam kamar kosnya yang berukuran 3 meter x 3 meter di Kalitan, Solo.

”Sebenarnya, agennya sudah menawarkan tiket pulang, tetapi dia memilih menunggu gajinya cair. Katanya, masa pulang kerja enggak bawa uang?” ujar Ndaru ketika menunggu jenazah di ruang forensik Rumah Sakit dr Moewardi, Rabu.

Ndaru bercerita, Mendieta kesulitan dana selama enam bulan terakhir sejak Persis Solo bubar, Juni lalu. Saat itulah kontraknya di Persis berakhir, sementara gajinya selama empat bulan terakhir belum dibayar.

Setelah itu, Mendieta mengikuti banyak pertandingan sepak bola antarkampung dan memperoleh uang sekadar untuk bertahan hidup. Terakhir, ia masih bermain dalam Piala Batik, Oktober lalu.

Kesehatan Mendieta mulai menurun sekitar November awal. Ia kerap pusing dan muntah-muntah. Dibawa ke Rumah Sakit Yarsis Solo, Mendieta dinyatakan menderita tifus. Setelah pulang, ia kembali sakit dan masuk ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Karena penyakitnya tak terdeteksi, pihak rumah sakit merujuk Mendieta ke Rumah Sakit dr Moewardi.

Pihak rumah sakit menyatakan Mendieta terkena cytomegalovirus yang menyerang otak. Kondisinya semakin kritis dan sempat masuk ke ruang perawatan intensif. Tak lama, maut merenggutnya.

Dalam perawatan, pemain yang dikontrak Persis Solo untuk semusim kompetisi itu kesulitan biaya. Tak hanya untuk membayar biaya perawatan di rumah sakit, Mendieta pun sudah enam bulan menunggak pembayaran kosnya sebesar Rp 6,9 juta. Bahkan, untuk makan sehari-hari, dia mendapat banyak bantuan dari rekan. Suporter Persis, Pasoepati, sampai menggelar nonton bareng Piala AFF 2012 saat Indonesia bertanding melawan Laos dan Malaysia untuk menggalang dana bagi Mendieta.

Isak tangis kadang mewarnai doa suporter, sampai jenazah Mendieta dibawa ke Bandara Adi Soemarmo dengan iringan sepeda motor, kemarin. Di tengah hujan deras, jenazah Mendieta sore itu dibawa ke Jakarta sebelum diterbangkan ke Paraguay.

Mantan Manajer Persis Solo Totok Supriyanto mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan pembayaran gaji Mendieta selama empat bulan sebesar Rp 131 juta. Uang itu ditransfer langsung ke rekening istri Mendieta. ”Selama Diego sakit itu bukan tanggung jawab kami karena dia kan sudah tidak di klub. Kewajiban kami hanya membayar gaji yang selama ini tertahan karena kami kesulitan dana,” tutur Totok.

Pihak agen, Theodora Wulansari dari PT Javindo, menyesalkan kematian Mendieta. ”Mengapa perhatian dan hak Diego baru diberikan setelah yang bersangkutan meninggal?” ujarnya.

Wali Kota Solo, yang juga Ketua Persis Solo 2006-2011, FX Hadi Rudyatmo mengatakan peristiwa ini merupakan tamparan bagi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). ”Ini pengalaman yang pahit, pemain asing meninggal dengan menyisakan permasalahan profesionalitas, masalah gaji yang belum dibayar,” kata Rudy yang merogoh kantong pribadinya untuk biaya rumah sakit Mendieta.

Tiga bulan lalu, kasus yang hampir sama menimpa pemain asal Brasil, Bruno Zandonadi. Dia meninggal di Indonesia karena infeksi otak dan dalam kondisi ekonomi yang minim. Dalam kondisi tak lagi dikontrak klub, dia kesulitan membiayai pengobatannya. Zandonadi meninggal pada 13 Oktober lalu.

Kepergian Zandonadi dan Mendieta sudah cukup menggambarkan masih banyak klub yang dikelola serampangan. Beberapa klub sering nekat berkompetisi meski tak memiliki dana yang kuat. Tak pelak, pemain sering jadi korban. Dari data Asosiasi Pemain Profesional Indonesia, ada 13 klub di Indonesia Super League atau Indonesia Premier League yang menunggak gaji pemain pada musim lalu.

Untuk ikut kompetisi, klub bisa menghabiskan dana lebih dari Rp 20 miliar, sedangkan pemasukan jauh dari harapan. Satu-satunya sumber dana di luar donasi patron atau pemerintah adalah tiket penonton yang kerap tak menutup pengeluaran.

Konflik internal kepengurusan sepak bola Indonesia memang berdampak pada dualisme kompetisi yang melahirkan banyak klub. Setiap klub berlomba mengontrak pemain asing, entah punya uang atau tidak.

Kasus Persis Solo terjadi karena klub ini hanya punya modal sekitar Rp 3 miliar. Seperti diakui Totok, pihaknya menunggak gaji pemain karena pengelolaan anggaran yang minim itu tak sesuai dengan pengeluaran.

Kematian Mendieta membuat Federasi Pesepak Bola Profesional Dunia (FIFPro) terkejut. Dalam situs resminya, FIFPro meminta PSSI segera membenahi finansial klub. ”Jika benar karena adanya kelalaian klub, ini sangat memalukan,” ujar Sekjen FIFPro Representatif Asia Frederique Winia.

Kasus Mendieta adalah pelajaran teramat pahit bagi sejumlah pihak yang berseteru untuk memperbaiki sepak bola yang karut-marut. Sepak bola Indonesia butuh penanganan profesional, rapi, kompak, dan menyeluruh. Ini tak bisa diatasi dengan berkonflik dan mempertahankan dualisme kompetisi dan kepengurusan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau