Disfungsi Ereksi dan Sakit Gusi Ada Kaitannya

Kompas.com - 07/12/2012, 11:37 WIB

KOMPAS.com – Senyuman menarik dari pria tentu saja menjadi faktor penting untuk memikat wanita. Untuk mendapatkan senyuman yang menarik, tentu saja pria perlu menjaga kesehatan gigi dan gusinya. Namun ternyata selain demi senyuman menarik, menjaga kesehatan gigi dan gusi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan seks pria. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine menemukan adanya hubungan antara penyakit gusi dan disfungsi ereksi.

Para peneliti dari University of Malatya di Turki melakukan riset pada 160 orang berusia 30 sampai 40 tahun, setengah dari mereka memiliki disfungsi ereksi. Di antara pria impoten, 53 persen juga ditemukan memiliki gusi meradang, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 23 persen. Usia rata-rata laki-laki dalam penelitian ini berada di bawah 36 tahun.

Para peneliti menggunakan Indeks Internasional Disfungsi Ereksi, sejenis kuisioner yang menilai fungsi dan perilaku seksual pasien. Setelah data untuk berat badan, usia, indeks massa tubuh, pendapatan rumah tangga, dan tingkat pendidikan diolah, para peneliti menemukan bahwa pria dengan penyakit periodontal memiliki kecendrungan lebih tinggi 3,29 persen untuk mengalami masalah mempertahankan ereksi dibandingkan mereka yang memiliki gusi yang sehat. Disfungsi ereksi juga telah dikaitkan dengan kondisi kronis, serta testosteron rendah.

"Sudah jelas ketika memiliki penyakit periodontal dapat memicu terjadi penyakit lain,” kata Don Clem, DDS, mantan presiden American Academy of Periodontology dan ahli penyakit periodontal di Fullerton, California. Hal ini seperti yang sudah diketahui sebelumnya, ada hubungan antara penyakit periodontal dengan penyakit kardiovaskular, kanker dan penyakit kronis lain.

Sejumlah penelitian dan survei telah membuktikan bahwa pria yang tidak menjaga kebersihan mulut, jarang mengunjungi dokter gigi memiliki kecenderungan untuk mengalami penyakit periodontal. Jika dibandingkan dengan wanita, pria cenderung mengunjungi dokter gigi jika keadaan gigi mereka sudah memburuk, demikan menurut Academy of General Dentistry. Penelitian sebelumnya juga menyatakan, rata-rata pria akan kehilangan 5,4 gigi pada usia 72, sedangkan 12 gigi pada usia 72 apabila memiliki kebiasaan merokok.

Hubungan penyakit gigi dengan penyakit lainnya memang sudah banyak diteliti. Kevin Billups, MD, seorang urolog dan direktur Program Kesehatan Inovatif Pria di Johns Hopkins Medicine, mengatakan mustahil untuk mengabaikan hubungan ini. Karena pada kenyataannya memang sangat berkaitan.

"Penyakit gusi dapat menjadi tanda terkena penyakit sistemik yang disebabkan oleh peradangan, “kata Billups.

Ia juga menambahkan pasien yang menderita impotensi berisiko sangat besar menderita penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun mendatang.

Mulut, seperti yang dikatakan Clem, masih banyak dianggap sebagai bagian yang terpisah dari bagian tubuh lain. Jadi, ketika ada suatu masalah pada kesehatannya, dianggap tidak akan menimbulkan komplikasi dengan penyakit lain. Namun faktanya ternyata tidak begitu, karena semua saling berkaitan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau