Pedoman pendidikan

Berharap pada Kurikulum 2013

Kompas.com - 07/12/2012, 13:54 WIB

KOMPAS.com - Adagium yang menyatakan ”ganti menteri, ganti kurikulum” tak sepenuhnya salah. Belum semua sekolah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, kini kurikulum sudah berganti lagi dengan Kurikulum 2013.

Sebelumnya juga sudah ada Kurikulum 1984 yang menekankan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Kurikulum 1994, dan Kurikulum 2004 yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Pertanyaan yang kemudian muncul, kurikulum sering berganti, tetapi mengapa cara mengajar guru di depan kelas tidak berubah? Guru tetap sebagai pusat pembelajaran (teacher centered learning), sedangkan siswa hanya pasif mendengarkan. Akhirnya, timbul kesan, perubahan kurikulum menjadi sia-sia karena tidak diikuti perubahan metode pengajaran.

”Berdasarkan pengalaman itulah, dalam penerapan Kurikulum 2013, guru mendapat pelatihan khusus,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Perubahan kurikulum pun, menurut Nuh, bukan sesuatu yang ditabukan dan dilarang. Justru kurikulum harus diubah sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.

Perubahan kurikulum dilakukan karena Kurikulum 2006 dianggap masih menimbulkan berbagai fenomena negatif, seperti beban siswa terlalu berat karena terlalu banyak pelajaran serta kurang bermuatan karakter sehingga memunculkan plagiarisme, kecurangan, perkelahian pelajar, dan berbagai persoalan lain.

Diramu dengan tantangan masa depan, seperti tantangan globalisasi, persoalan lingkungan hidup, perkembangan teknologi informasi, serta kompetensi individu yang mampu berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, serta kompetensi lain, jadilah Kurikulum 2013 yang akan diterapkan secara bertahap di SD, SMP, dan SMA.

Sebelum diterapkan, rancangan kurikulum ini diuji publik untuk mendapat masukan dan penyempurnaan. ”Semoga saja uji publik tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan betul-betul menyerap aspirasi yang berkembang di masyarakat,” kata Itje Chodidjah, pelatih guru di sejumlah sekolah.

Didiskusikan

Untuk menampung berbagai pikiran yang berkembang di masyarakat, harian Kompas beberapa waktu lalu juga menyelenggarakan diskusi terbatas dengan menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, pelatih guru Henny Supolo Sitepu dari Yayasan Cahaya Guru, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia S Hamid Hasan, serta Guru Besar Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto.

Dari hasil diskusi tersebut terungkap kekhawatiran, Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu bagus dalam tataran konsep dan bahasa kurikulum sangat indah, tetapi sangat buruk dalam penerapan. Ambil contoh Kurikulum 1984 yang mengharuskan siswa aktif ataupun Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi. Dengan kurikulum itu, aktivitas belajar semestinya berpusat pada siswa.

”Kenyataannya, pola mengajar guru tidak berubah. Guru tetap memberikan materi di depan kelas dan murid mendengarkan. Guru tidak bisa disalahkan karena guru tidak pernah diberikan pelatihan,” kata Henny Supolo.

Menghadapi persoalan ini, menurut Wakil Mendikbud Musliar Kasim, guru-guru akan dilatih sebelum Kurikulum 2013 diterapkan. Kemdikbud akan memilih sekitar 40.000 guru terbaik sebagai pelatih inti atau master trainer. Mereka selanjutnya melatih sekitar 350.000 guru selama enam bulan.

Penerapan kurikulum pun tidak dilakukan sekaligus, tetapi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu pembelajaran. Pada tahun pertama, misalnya, kurikulum akan diterapkan di kelas I dan IV SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA. ”Jadi, dari sekitar 2,9 juta guru, tidak sekaligus semua guru dilatih,” kata Mendikbud Mohammad Nuh.

Meski demikian, pelatihan ini tetap dikritik banyak kalangan. Misalnya, tidak mudah mengubah kebiasaan guru yang selama ini menjadi ”sumber kebenaran” dengan memberikan materi di depan kelas menjadi pendorong siswa agar aktif, kreatif, dan memiliki semangat inovatif. Apalagi, latar belakang pendidikan guru di Indonesia masih sangat tidak memadai. Hanya 22,6 persen guru SD yang sarjana dan tidak sampai 28 persen guru SMP yang sarjana. Itu pun rata-rata umurnya sudah di atas 40 tahun yang tak terbiasa mendorong kreativitas siswa.

”Bagi kami, lebih baik penerapan Kurikulum 2013 ditunda,” kata Henny Supolo.

Pemadatan pelajaran

Persoalan yang mengemuka dalam Kurikulum 2013 adalah arah yang hendak dicapai melalui kurikulum ini. Dalam kompetensi lulusan, misalnya, diharapkan memiliki karakter mulia. ”Karakter mulia itu ukurannya apa? Harus lebih jelas dan tegas sehingga semua pihak bisa mengukur apakah kompetensi sudah tercapai atau belum,” kata Henny Supolo.


Baca kelanjutannya di Kompas Cetak

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau