Kediri

Pakan Melambung, Peternak Ayam Broiler Gulung Tikar

Kompas.com - 10/12/2012, 21:04 WIB

KEDIRI, KOMPAS.com - Peternak ayam broiler (pedaging) sistem mandiri/ perseorangan (non kemitraan) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur banyak yang gulung tikar akibat mahalnya harga pakan. Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak mampu beroperasi lagi.

Puspa, seorang peternak di Kecamatan Kandat mengatakan, harga pakan yang tinggi membuat biaya operasionalnya turut melambung tinggi. Kondisi tersebut membuatnya semakin tercekik karena tidak diimbangi dengan tingginya harga jual ayam saat panen tiba. "Biaya operasionalnya tinggi, tapi harga jual saat panen anjlok," kata Puspa, Senin (10/12/2012).

Peternak lainnya, Shonhaji, di Kecamatan Plosoklaten mengatakan, kenaikan pakan itu sudah terjadi secara bertahap sejak usai lebaran lalu. Dari harga awal sebesar Rp 4.800 per kilogramnya, kini menjadi Rp 5.800 perkilogramnya. "Harga pakan terus naik karena langkanya bahan pembuatan pakan, yaitu bongkol kedelai yang diimpor dari Amerika sana," ujar Shonhaji menirukan penjual pakan.

Akibat kenaikan harga pakan, pria yang mempunyai 3 petak kandang dengan kapasitas perkandang bervariasi antara 1.500 ekor ayam hingga 2.000 ekor ayam ini mencontohkan, total pengeluaran atau biaya produksi untuk setiap 1.500 ekor ayamnya adalah Rp. 39.870.000. "Dari total pengeluaran itu, biaya paling tinggi adalah pembelian pakan," imbuhnya.

Pada beberapa kali panenan ini, Shonhaji menambahkan, ia tidak mendapatkan untung atau juga titik impas (BEP), bahkan ia malah merugi. Sebab, saat panen berlangsung, harga jual daging ayam dari tengkulak hanya berkisar Rp 11.000 per kg. Padahal untuk impas (BEP), setidaknya harga jualnya harus sekitar Rp 13.000 per kg. "Musim panen kemarin itu rata-rata setiap 1.500 ekor ayam, saya rugi sekitar Rp 6 juta," katanya.

Oleh sebab itu, sejak dua kali musim ini, ia memilih mengistirahatkan beberapa kandangnya. Ia hanya mengisi satu kandangnya untuk berspekulasi harga. " Itupun saya isi supaya tidak nganggur, sekaligus untuk menjaga hubungan dengan tengkulak," imbuhnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kediri mengaku belum mendapat laporan adanya keluhan dari para peternak. Ia menganggap, mahalnya pakan tidak mendera pada semua peternak. " Hal itu terjadi secara kasuistis saja, dan kita belum mendapat laporan," kata Sri Suparmi.

Data dari Dinas Peternakan, jumlah peternak ayam potong di Kabupaten Kediri mencapai 128 peternak yang dikelola dengan sistem kemitraan oleh perusahaan besar. Sementara untuk peternak mandiri sekitar 270 peternak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau