JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 30 kepala keluarga yang tinggal di tepi Kali Baru, RT 01 RW 09, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, kian resah menjalani kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak, tanah yang ada di depan rumah mereka mengalami erosi akibat aliran kali, menyebabkan permukiman warga rawan longsor.
Kondisi yang terjadi, aliran kali yang memiliki hulu di Bogor, Jawa Barat, itu membawa serta tanah yang ada di tepi kali dan berbatasan langsung dengan rumah warga. Akibatnya, luas tanah yang semula memiliki lebar 7 meter kian lama kian tergerus hingga tersisa 2 meter untuk jalan kecil.
Asmat (50), Ketua RT 01, mengungkapkan, proyek penurapan tepi kali sebenarnya telah dilakukan dan selesai pertengahan 2012. Namun, penurapan tersebut baru dibangun pada sisi tepi kali yang berbatasan dengan Jalan Raya Bogor. Adapun sisi yang berbatasan dengan rumah warga belum diturap. Hal itu lah yang dianggap menjadi penyebab pengikisan terus terjadi.
"Harusnya yang diprioritaskan warga dong. Kalau ada korban gimana, kan kondisinya memang sudah bahaya. Kalau kecil-kecil doang kayak nambal jalan sih warga nggak masalah, kalau proyek besar ya pemerintah lah," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Senin (10/12/2012).
Menurut pria yang telah tinggal sejak tahun 1970-an itu, keresahan warga akan bahaya longsor telah dirasakan sejak bertahun-tahun lalu. Oleh sebab itu, warga RW 09, khususnya yang memiliki tanah dan bangunan di tepi Kali Baru, mangajukan pembangunan turap ke Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Timur. Namun hingga kini, proyek penurapan yang diharapkan warga tak kunjung terlaksana.
Warga sempat mempertanyakan karena proses pengajuan pembangunan tersebut telah sesuai dengan prosedur, yakni warga bukan penduduk liar karena telah bersertifikat serta dibantu oleh Kelurahan dan Kecamatan.
"Biasanya kan ada pertemuan antara warga. Tapi sampai sekarang belum ada, baru yang pertama kali kita ngajuin saja. Akhirnya belum jalan sampai sekarang. Malah yang sebelah duluan," lanjutnya.
Suprapto (42), warga RT 01 lain mengatakan, dari informasi yang diperolehnya, pembangunan turap di tepi kali yang berseberangan dengan warga diprioritaskan dengan alasan mencegah longsor di Jalan Raya Bogor, sementara di sisi permukiman, turap telah dibangun hanya enam meter, tepatnya di sisi jembatan penghubung Jalan Raya Bogor dengan permukiman warga.
"Dengar-dengar, bagian warga diturap dengan sisa anggaran yang sebelah sana (seberang). Karena yang sana pakai anggaran 2012, kalau yang di sini belum dianggarkan," ujarnya.
Warga sempat mendengar desas-desus bahwa proyek penurapan di sisi permukiman akan dilaksanakan pada 2013. Namun, Suprapto melanjutkan, informasi tersebut tidak bisa dipastikan kebenarannya, mengingat tak ada pemberitahuan dari pejabat, minimal Kelurahan. Jadi hingga kini, warga pun hanya bisa menunggu.
"Termasuk lambat menurut saya. Kita kan ajukan sudah dari 2004. Jadi harapannya dipercepat. Mengingat ini jalan umum, takut kecelakaan, efek negatifnya lebih besar lagi," ujarnya.
Pantauan Kompas.com, kondisi permukiman itu memprihatinkan. Di depan deretan rumah warga hanya terdapat jalan semen selebar 2 meter yang dibatasi pagar kayu di tepinya. Selepas itu, hanya tanah dengan ketinggian sekitar 5 meter ke aliran air. Yang meresahkan, bagian bawah setengah jalan warga hanya ditopang oleh beton sehingga goncangan sangat terasa.
Kondisi pengikisan tersebut terjadi bertahun-tahun akibat aliran air, terlebih musim penghujan. Tanah warga yang semula selebar 7 meter, tinggal tersisa 2 meter saja akibat pengikisan itu. Bahkan di beberapa ruas jalan warga mengalami keretakan akibat tanah yang terus amblas. Namun warga tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa memilih hidup dihantui kecemasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang