Mengapa Gandhi Tak Pernah Peroleh Nobel Perdamaian?

Kompas.com - 11/12/2012, 08:20 WIB

KOMPAS.com — Uni Eropa, yang diwakili oleh kepala tiga institusi utamanya—Presiden Uni Eropa Herman van Rompuy, Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, dan Ketua Parlemen Eropa Martin Schultz—Senin (10/12/2012) siang waktu setempat, menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2012 pada sebuah upacara di Balai Kota Oslo, Norwegia. Anugerah ini diberikan atas jasa UE membawa perdamaian dan demokrasi di Eropa setelah kengerian dua perang dunia.
Uang hadiah sebesar 930.000 euro akan diberikan pada proyek-proyek yang membantu anak-anak di daerah yang dilanda perang setelah ditambah UE dengan jumlah yang sama.

Penetapan UE sebagai peraih Hadiah Nobel Perdamaian oleh Komite Nobel Norwegia itu menimbulkan kritik dari banyak pihak, antara lain uskup asal Afrika Selatan, Desmond Tutu, dan demonstran di Oslo. Mereka mengatakan, UE bukanlah penerima yang tepat berdasarkan syarat yang ditetapkan Alfred Nobel dalam surat wasiatnya tahun 1895.

Dengan atau tanpa kritik, ketiga pemimpin UE itu menerima hadiah prestisius tersebut di Aula Tengah Gedung Balai Kota Oslo, pada 10 Desember, hari peringatan meninggalnya Alfred Nobel. Di ruang dengan mural karya Henrik Sorensens dalam gedung karya arsitek Arnstein Arneberg dan Magnus Poulsson itu, Hadiah Nobel Perdamaian diberikan setiap tahun pada tanggal yang sama.

Di seberang plaza dari Gedung Balai Kota Oslo itu, Nobel Peace Center berada. Lembaga yang dibuka tahun 2005 ini merupakan bagian dari jaringan institusi Nobel yang menampilkan para peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan karya mereka. Sampai 17 Februari 2013, lembaga ini menyajikan pameran Eye on Gandhi, terutama menampilkan hari-hari terakhir Gandhi dalam foto-foto karya fotografer Henri Cartier-Bresson.

Mahatma Gandhi tidak pernah menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Hal ini sangat sering dipertanyakan orang.

"Kami juga tidak tahu pasti alasan mengapa Gandhi tidak pernah terpilih sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian," kata Liv Astrid Sverdrup, Direktur Pameran Nobel Peace Center, kepada Kompas, November lalu, di depan foto besar tokoh itu dekat pintu masuk pameran. Menurut Sverdrup, Gandhi menjadi nomine lima kali, yaitu tahun 1937, 1938, 1939, 1947, dan beberapa hari sebelum dia tewas tahun 1948.

Tidak ada catatan isi pertemuan Komite Nobel Norwegia—komite yang dibentuk setelah Alfred Nobel dalam surat wasiatnya menetapkan hadiah bidang perdamaian ditetapkan oleh institusi Norwegia (bidang-bidang yang lain oleh institusi Swedia)—mengenai pemilihan pemenang hadiah. Dari catatan harian ketua komite itu diperkirakan salah satu alasan Gandhi tidak terpilih semasa hidupnya adalah mungkin dianggap terlalu radikal, mengingat hadiah itu dari Barat, sedangkan Gandhi adalah orang India yang berjuang melawan penjajahan Inggris.

Gandhi dijagokan terpilih sebagai penerima tahun 1948, tetapi dia terbunuh pada 30 Januari tahun itu. Hal itu yang diduga membuat Komite Nobel menetapkan tahun tersebut tidak ada penerima Hadiah Nobel Perdamaian karena "tidak ada kandidat yang masih hidup yang memenuhi kriteria". Tetap saja kata-kata dan karya Gandhi menginspirasi banyak orang akan perdamaian, termasuk dua peraih Nobel Perdamaian Martin Luther King dan Aung San Suu Kyi. (DIAH Marsidi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau