Dua Petambang Masih Dicari

Kompas.com - 12/12/2012, 02:49 WIB

SUKABUMI, KOMPAS - Tim penyelamat belum menemukan dua petambang emas yang diduga menjadi korban tanah longsor di Bukit Buleud, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hingga Selasa (11/12) petang, tim baru menemukan dua korban tewas.

Selasa pagi, tim menemukan jenazah Yanto (28), warga Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, di Sungai Cipanengah, sekitar 6 kilometer dari titik longsor. Sebelumnya, jasad Aep (45) juga ditemukan di sungai itu, 3 kilometer dari lokasi longsor.

Longsor terjadi Senin petang. Saat itu hujan deras mengguyur selama lebih dari 2 jam. Warga mendengar suara gelegar dari puncak Bukit Buleud setinggi 125 meter dari jalan desa. Gumpalan tanah meluncur dari bukit dengan kecuraman 80 derajat itu.

Maman, seorang petambang, mengatakan, jumlah orang di lereng itu saat kejadian lebih dari 15 orang. Namun, ia tidak bisa memastikan jumlahnya. Ia sempat naik ke bukit untuk memeriksa lubang tambangnya. Namun, sebelum hujan dia turun.

Jumlah korban yang hilang dalam bencana itu belum jelas. Letnan Kolonel (Inf) Fifin Firmansyah, Komandan Kodim/0622 Sukabumi, menyebutkan, korban yang hilang sebanyak dua orang, yaitu Yana dan Opik. Keduanya berasal dari Kecamatan Ciemas.

”Kami mendata korban sesuai keluarga yang melapor kehilangan kerabat. Hingga Selasa petang, kami menerima dua laporan kehilangan,” kata Firmansyah. Tujuh korban selamat, termasuk tiga orang terluka.

Menurut Kepala Desa Sirnaresmi Ujang Suhendi, ada sekitar 30 lubang penambangan di Bukit Buleud. Dua lubang tergerus aliran longsor. Tak ada korban yang terperangkap di kedua lubang itu.

”Penambangan emas di Bukit Buleud baru dimulai sekitar sebulan lalu. Sepuluh hari lalu, saya bertemu sekitar 20 petambang dan mengingatkan mereka bahwa pertambangan di bukit itu tak aman. Tanah di bukit itu gembur dan lerengnya curam,” ujarnya.

Ujang mengaku telah meminta petambang untuk menghentikan kegiatan mereka. Pernyataan senada disampaikan Bupati Sukabumi Sukmawijaya. Ia melarang kegiatan penambangan liar karena membahayakan.

Seorang tewas

Dari Jawa Timur dilaporkan, hujan deras disertai puting beliung menimpa Desa Gunung Malang dan Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Senin sore. Angin kencang itu memorakporandakan 69 rumah warga dan sebuah masjid. Saat bersamaan, seorang petambang, Sofian, tewas tersambar petir saat menggali pasir di Gunung Malang. Lima rekannya terluka.

Puting beliung juga menerjang Kabupaten Tuban dan Malang, Senin petang. Puluhan bangunan rusak. (HEI/SIR/ODY/ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau