FIFA: PSSI-KPSI Harus Sadar

Kompas.com - 12/12/2012, 12:28 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Wakil Ketua FIFA Prince Ali bin Al Hussein menyayangkan terjadinya berbagai konflik dalam sepak bola Indonesia. Menurutnya, jika sanksi FIFA benar dijatuhkan, maka PSSI dan KPSI yang selama ini terus berseteru pantas disalahkan.

Sepak bola Indonesia saat ini tengah menunggu reaksi FIFA terkait kembali adanya ancaman sanksi. Hal itu tertuang dalam surat FIFA tertanggal 26 November mengenai penyelesaian dualisme kompetisi maupun kepengurusan organisasi sepak bola Indonesia.

FIFA memberi tenggat waktu kepada Indonesia hingga 10 Desember untuk menyelesaikan berbagai masalah itu. Bila gagal, Federasi Sepak Bola Dunia itu akan mengeluarkan sanksi saat menggelar pertemuan di Tokyo, Jumat (14/12/2012).

"Saya sudah melihat betapa pentingnya sepak bola bagi masyarakat Indonesia dan permasalahan ini harus segera dituntaskan. Anda tidak bisa mempunyai dua liga di satu negara. Hal tersebut adalah isu fundamental yang harus diakhiri," ujar Prince Ali kepada Reuters seperti dilansir Euronews.

PSSI sendiri sudah menggelar Kongres Luar Biasa di Palangkaraya, Senin (10/12/2012). KLB yang berlangsung selama 30 menit itu memutuskan untuk membatalkan MoU dengan KPSI dan membubarkan Joint Committee (JC). Hasil kongres nantinya akan dibawa wakil FIFA dan AFC tersebut ke rapat Komite Eksekutif FIFA di Tokyo.

Namun, salah satu yang dapat membuat FIFA menilai sepak bola Indonesia gagal menyelesaikan konflik karena KPSI juga melakukan kongres tandingan pada hari yang sama di Jakarta. Artinya, kisruh sepak bola ini makin rumit dan jauh dari akhir yang mampu menyelesaikan persoalan.

Prince Ali mengatakan, pihaknya sudah mencoba cara terbaik melalui pembentukan tim Task Force AFC beberapa waktu lalu. Akan tetapi, kedua kubu tersebut tetap tidak mempunyai niat untuk berdamai sehingga konflik dan perpecahan sepak bola Indonesia belum berakhir.

"Semua stakeholders di sepak bola Indonesia harus menyadari, jika mereka ingin melayani masyarakat, maka mereka harus menyelesaikan perbedaan. Kami akan membahas situasi ini di Tokyo saat rapat Exco," tegas Prince Ali.

Ikuti berita lain seputar masalah di PSSI dalam topik : Kisruh PSSI

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau