Pariwisata

Pesona Danau Poso yang Tertunda

Kompas.com - 13/12/2012, 02:14 WIB

Danau Poso, Tentena, Provinsi Sulawesi Tengah, begitu tenang dan indah ketika matahari terbit menguningkan permukaan airnya, di awal November lalu. Beberapa nelayan menjadi bayangan yang menyempurnakan pemandangan pagi itu. Sayangnya, keindahan alam sempurna itu belum bisa maksimal dilestarikan sebagai aset pariwisata yang mampu memberdayakan masyarakatnya.

Peristiwa dan pencitraan dari pemberitaan mengenai konflik hingga terorisme menjadikan pesona Danau Poso tertunda bersinar. Itu terasa ketika Festival Danau Poso XV pada 3 November lalu. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Sudarto bersama Direktur Promosi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M Farid terpaksa berhenti di sekitar 70 kilometer sebelum Danau Poso. Mereka tertahan amuk warga yang protes terhadap polisi terkait penembakan satu warga terduga teroris.

Pembukaan festival pun tertunda dari rencana pukul 15.00 menjadi pukul 18.30 Wita. Belum lagi, hujan deras yang mengacaukan panggung pertunjukan, menggenangkan lapangan di depan danau, sampai membubarkan seluruh peserta festival saat itu yang sebagian besar adalah anak-anak sekolah dasar. Hanya panggung undangan yang masih setia mengikuti pembukaan yang sepi itu.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan begitu menyesal karena semarak festival seperti kehilangan roh. ”Festival ini sudah 15 kali dilaksanakan dan hari ini menjadi hari yang tak terduga terjadi. Ini benar-benar menjadi pembukaan festival yang penuh peringatan untuk pemerintah. Banyak hal harus diperbaiki, termasuk pencitraan Poso belakangan ini,” katanya.

Padahal, lanjut Sudarto, ia percaya kedamaian dan rasa aman masih ada di Poso. Namun, ia mengakui potensi pariwisata Poso, terutama Danau Poso yang merupakan terbesar ketiga di Indonesia ini belum tergali maksimal. Penataan Danau Poso, lanjutnya, masih karut-marut.

Ia berjanji peristiwa sepinya Festival Danau Poso XV ini menjadi cambuk untuk memperbaiki diri. Baginya, introspeksi menjadi hal yang penting untuk memperbaiki segala hal mengenai Danau Poso agar tak menenggelamkan potensinya.

Danau Poso berada di kota Tentena. Danau itu memiliki bentangan dari utara ke selatan sepanjang 32 kilometer (km) serta lebar 16 km dengan kedalaman sampai 510 meter. Luasnya sekitar 32.000 hektar dan berada di ketinggian rata-rata 501 meter di atas permukaan laut.

Selain pesona alamnya, data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, danau ini juga mengaliri sungai yang memiliki potensi energi listrik tenaga air dengan debet rata-rata tahunan sebesar 148,2 meter kubik per detik. Tenaga listrik yang dihasilkan diperkirakan mencapai 80 megawatt.

Kurang dari 3A

Direktur Promosi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif M Farid mengingatkan bahwa dari kacamata pariwisata, Danau Poso masih kurang dari 3A, yaitu akses, atraksi, dan akomodasi. Baginya, tiga hal itu menjadi penting bagi daerah yang memiliki potensi wisata untuk mendongkrak kedatangan wisatawan baik asing maupun lokal.

Farid berpendapat, perjalanan 15 tahun Festival Danau Poso (semestinya) mampu memberikan pandangan ke depan bagaimana cara memaksimalkan potensi yang sekaligus melestarikan alamnya. Ia mengkritisi belum sepenuh hati pemerintah provinsi maupun Pemerintah Kabupaten Poso untuk duduk bersama membicarakan nasib pariwisata ke depan. Padahal, potensi kunjungan wisata meningkat, sesuai data tahun 2007 hingga 2011.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, kunjungan wisatawan dalam negeri terus naik dari 69.743 orang (2007) menjadi sekitar 1,6 juta orang (2011) ke Sulawesi Selatan. Begitu juga kunjungan wisatawan macanegara, meningkat dari 1.613 orang (2007) menjadi 7.163 orang (2011). Namun, dari total kunjungan wisata tersebut hanya 12 persennya saja yang mengunjungi wisata di Poso.

Farid juga mengingatkan tetap perlunya akses yang nyaman menuju sejumlah titik wisata. Ia mencontohkan perjalanan menuju Danau Poso dari Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, berkisar lima jam untuk lebih dari 200 kilometer. Jalanan berkelok-kelok serta mengitari pegunungan yang memperlambat, termasuk beberapa titik infrastruktur trans-Sulawesi, perlu mendapat perhatian. Beberapa titik jalan beraspal rusak dan rawan adanya longsor pun harus diwaspadai, terutama untuk perjalanan pada malam hari atau saat hujan turun.

”Saya belum menemukan hal-hal yang tergarap serius selama perjalanan ini. Padahal, pemandangan sepanjang perjalanan menyenangkan. Tetapi menjadi jenuh karena belum adanya sentuhan sebagai nilai tambah perjalanan menuju tujuan utama Danau Poso. Misalnya, ada tempat pemberhentian agrowisata,” katanya.

Sepanjang perjalanan terdapat kebun-kebun kakao, kelapa, serta pisang di beberapa desa. Sekitar Tentena, Air Terjun Saluopa, merupakan air terjun bersusun 12 tingkat serta Goa Pamona dan Latea merupakan penanda tradisi Toraja. Wisatawan tak perlu khawatir haus atraksi dan budaya jika ke Kabupaten Poso.

”Masih ada waktu untuk berbenah diri…. Jika serius, kami siap membantu,” ujar Farid.(Ayu Sulistyowati)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau