Bradford dan Arsenal bermain 1-1 setelah menjalani laga selama 120 menit dalam turnamen yang dikenal sebagai Piala Liga ini. Dalam adu penalti, tiga pemain Arsenal, yaitu Santi Cazorla, Marouane Chamakh, dan Thomas Vermaelen, gagal mencetak gol.
Sementara penalti Bradford hanya gagal dua kali saat eksekusi Stephen Darby dan Ritchie Jones ditepis kiper Arsenal, Wojciech Szczesny.
”Hari ini kami kalah adu penalti melawan tim yang bertahan sangat bagus. Saya tidak bisa menyalahkan usaha para pemain. Kami memberikan semuanya selama 120 menit,” tegas Manajer Arsenal Arsene Wenger.
Arsenal, yang tidak pernah mengangkat piala setelah meraih Piala FA pada 2005, menurunkan tim utama saat tandang ke Valley Parade. Wenger menurunkan Gervinho, Lukas Podolski, dan pengatur permainan Cazorla untuk menggempur pertahanan Bradford.
Tuan rumah, yang bertahan dan mengandalkan serangan balik, justru unggul lebih dahulu. Garry Thompson menundukkan kiper Szczesny pada menit ke-16. Gol ini bukan hanya mengejutkan Arsenal, melainkan juga 23.971 suporter yang memadati stadion. Jumlah ini menjadi yang terbesar di Bradford setelah 1960.
Suporter tuan rumah kembali bergembira berkat penampilan kiper Matt Duke yang berkali-kali melakukan penyelamatan gemilang. Ia menggagalkan tendangan Alex Oxlade-Chamberlain dan Jack Wilshere.
Arsenal kembali mendominasi permainan pada babak kedua. Mereka memaksa Bradford bertahan total. Namun, gempuran The Gunners tak mampu membongkar pertahanan Bradford.
Arsenal baru bisa menyamakan skor pada menit ke-88 melalui sundulan bek asal Belgia, Vermaelen. The Gunners bahkan nyaris unggul pada akhir babak kedua melalui dua tendangan beruntun Cazorla.
Namun, Duke kembali tampil gemilang menggagalkan kedua peluang Cazorla dan memaksa laga memasuki babak tambahan waktu. ”Kami memiliki banyak, banyak peluang, tetapi penjaga gawang mereka tampil sangat bagus,” ujar Wenger.
”Kami juga tidak mampu memanfaatkan peluang. Ketika menyerang, itu tidak cukup bagus bagi Arsenal,” kata Wenger mengenai penyelesaian akhir lini depan timnya.
Bagi Bradford, kemenangan ini sangat penting. Mereka tidak diunggulkan lolos ke babak empat besar, apalagi dengan lawan Arsenal. ”Hasil ini sangat bermakna bagi kami, pemain, manajemen, dan staf,” ujar Manajer Bradford Phil Parkinson.
”Para pemain tampil luar biasa malam ini. Arsenal memiliki para pemain kelas dunia. Mereka tim yang lebih unggul. Namun, cara mereka (para pemain Bradford) gigih dalam berjuang sangat layak dihargai,” ucap Parkinson.
Parkinson juga terkesan dengan dukungan suporter yang memadati stadion. Dia berharap atmosfer positif terus berlanjut dan menghadirkan kemenangan-kemenangan berikutnya.
”Para suporter layak mendapatkan ini. Mereka jarang sekali merayakan kemenangan dalam 10 tahun terakhir. Kami ingin mempersembahkan kepada mereka tim yang bisa dibanggakan. Saya pikir kami sedang memulai mewujudkan itu,” tutur Parkinson.
Pada laga lain, Aston Villa lolos ke semifinal setelah mengandaskan Norwich City, 4-1. Manajer Aston Villa Paul Lambert menikmati kedatangan kembali ke kandang Norwich yang ia latih musim lalu. Lambert pun mendapat sambutan yang beragam, mulai tepuk tangan hingga ejekan.
Norwich unggul lebih dahulu melalui Steve Morison pada menit ke-19. Namun, tiga menit kemudian, Villa menyamakan kedudukan melalui gol Brett Holman. Lambert bisa mengabaikan ejekan suporter tuan rumah setelah Andreas Weimann mencetak dua gol pada menit ke-79 dan ke-85 yang membawa Villa unggul. Christian Benteke mengunci kemenangan Villa, 4-1, melalui gol pada menit 90+2.
Turnamen ini menyisakan dua tiket semifinal dan diperebutkan Swansea City dan Middlesbrough pada Rabu malam. Sementara Leeds United dan Chelsea baru akan bertarung pada Rabu pekan depan.