Daging Oplosan Meresahkan Para Pedagang Bakso

Kompas.com - 13/12/2012, 21:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bangunan sepanjang 40-an meter itu menjadi markas belasan hingga puluhan pedagang bakso. Bangunan tersebut termasuk lokasi yang pertama kali dikunjungi Joko Widodo saat kampanye putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta, Jumat (14/9/2012) pagi.

Pada ruangan bagian belakang bangunan semipermanen itu berjejer gerobak-gerobak yang akan digunakan para pedagang, Nuryanto (56), Ratmo (55), Pairin (45), dan teman-temannya, untuk berkeliling menjajakan bakso. Wilayah edar mereka meliputi kawasan seputaran Mampang, Kemang, Kuningan, Tegal Parang, Pancoran, hingga Pejaten.

Ruangan itu pula yang dimasuki Jokowi saat berkunjung. Jokowi yang saat itu masih menjadi calon gubernur DKI Jakarta sempat mencoba pengolahan bahan baku bakso yang sedang dikerjakan Ratmo, bapak dua anak asal Karanganyar, Jawa Tengah. Warga setempat sungguh ceria ketika mendapat kunjungan pria yang akhirnya benar-benar menjadi gubernur tersebut.

Namun, kini kondisi di tempat tersebut berubah drastis. Wajah-wajah ceria di pondokan pedagang bakso di RT 11 RW 04 Mampang, Jakarta Selatan, itu telah berganti dengan kemurungan. "Berita-berita kemarin bisa bikin dagangan kami enggak laku," ujar Ratmo, Kamis (13/12/2012).

Berita tentang bakso dari bahan campuran daging celeng di Pasar Cipete dalam dua hari terakhir benar-benar mengawatirkan mereka. Bagaimana tidak, bersama belasan rekannya, Ratmo benar-benar mengandalkan berdagang bakso sebagai sumber utama penghidupan keluarga. "Saya sudah dagang bakso sejak tahun 1975. Kalau ditanya keahlian lain, saya enggak punya. Itu makanya sudah puluhan tahun saya cuma ngandalin bakso," kata Ratmo.

Kecemasan itu beralasan. Informasi yang berkembang bisa berpengaruh besar terhadap keinginan warga untuk mencicipi dagangan mereka. Imbasnya, omzet penjualan para pedagang diperkirakan akan menurun. "Di kepala sudah kebayang kemungkinan merugi beberapa minggu ini," kata Nuryanto menimpali perkataan Ratmo.

Yanto menjelaskan, setiap hari mereka berkewajiban menyetor uang senilai Rp 300.000 kepada pemilik usaha. Mereka hanya bertugas membantu pengolahan daging sekaligus penjualan. Adapun bahan mentah dan bahan baku, penginapan, gerobak dan perlengkapannya, semuanya berasal dari pemilik usaha. Oleh sebab itu, berapa pun hasil penjualan harus disetor sesuai nilai yang ditentukan.

"Biasanya juga yang dibawa pulang di bawah Rp 300.000. Ya, kita harus nombok kalau sudah gitu," ujar Pairin.

Sumini (58), juragan para pedagang bakso itu, ikut menyatakan kecemasan para pedagang itu. Usaha mereka bisa berantakan bila masyarakat Jakarta menyangka semua daging bakso diolah dari bahan bercampur daging celeng.

"Ini pukulan berat untuk usaha kami. Rata-rata mereka ini pedagang kecil. Takutnya berita kayak gini ditayangin terus malah bikin orang takut sama dagangan kami," keluh Sumini.

Ia menuturkan, semua pekerjanya berjualan mulai sekitar pukul 13.00 WIB hingga pukul 01.00 dini hari. Kebanyakan dari mereka terpaksa begadang hingga dini hari karena dagangan mereka belum laku terjual.

"Saya biasanya di depan Gedung Patra Jasa (Jalan Gatot Subroto), Kuningan, sampai jam 3 atau 4 subuh," kata Yanto.

Sumini, didampingi suaminya Kari, menerangkan bahwa tidak semua pedagang bakso mengolah dengan cara yang sama seperti yang terjadi di Cipete. Ia menjelaskan, semua bahan yang digunakannya halal. "Bahan dagingnya saya beli daging (ayam) broiler dari supermarket. Enggak pernah pakai daging celeng," katanya.

Sambil mendorong gerobak bakso meninggalkan pangkalannya, Ratmo dengan wajah yang lesu kembali menyampaikan harapan agar keberuntungan tetap menaungi mereka. Ia berharap masyarakat Jakarta tidak langsung bersikap antibakso akibat isu daging celeng yang berkembang dalam dua hari terakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau