JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengaku penerimaan negara bukan pajak (PNBP) masih minim. Ia menginginkan ada peningkatan setoran non pajak tersebut.
"Ini menjadi tekad bersama sebagai pejabat untuk memperbaiki pengelolaan penerimaan negara bukan pajak, kita akan optimalkan di seluruh Kementerian/Lembaga," kata Agus saat memberikan sambutan di acara Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Keuangan dan Kementerian/Lembaga tentang Optimalisasi Pengelolaan PNBP di Gedung Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat (14/12/2012).
Menurut Agus, jumlah PNBP dalam satu dekade terakhir sejak 2001 hingga 2011 hanya meningkat tiga kali lipat yaitu dari Rp 115 triliun menjadi Rp 341 triliun. Padahal jumlah penerimaan pajak dan bea cukai dalam periode yang sama sudah meningkat hampir 10 kali lipat dari sebesar Rp 185 triliun menjadi Rp 1.016 triliun.
"Kita akan tingkatkan jumlah PNBP minimal empat kali lipat," tambahnya.
Menurut Agus, peningkatan penerimaan ini perlu dilakukan karena negara masih memiliki defisit anggaran. Pada tahun 2012 ini, defisit anggaran semula ditargetkan hanya 2,23 persen. Namun kenyataannya melonjak hingga 2,35 persen hingga akhir tahun ini.
Hal itu disebabkan lonjakan anggaran untuk penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) dari hanya 40 juta KL menjadi 43,5 juta KL. Apalagi di akhir tahun ini, pemerintah meminta tambahan kuota BBM bersubsidi sebesar 1,2 juta KL. Atas beban tersebut, negara harus mengeluarkan anggaran dari semula hanya Rp 137 triliun, kini membengkak hingga Rp 230 triliun.
Di tahun depan, pemerintah menargetkan kuota BBM Bersubsidi sebesar 46 juta KL. Namun prediksinya bisa melonjak hingga 48 juta KL. "Tapi tahun depan kita akan tekan defisit anggaran menjadi hanya 1,65 persen," tambahnya.
Cara yang akan dilakukan Agus adalah intensifikasi dan mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan negara yang sudah ada. Selain itu optimalisasi royalti pungutan sumber daya alam yang selama ini masih belum digarap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang