BRUSSELS, JUMAT
Sikap itu diambil dalam pertemuan para pemimpin negara- negara anggota Uni Eropa (UE) di Brussels, Belgia, Jumat (14/12). Perdana Menteri Inggris David Cameron bahkan mendesak para pemimpin UE agar meninjau kembali embargo senjata terhadap Suriah guna membuka jalan bagi pasokan peralatan untuk pasukan pihak oposisi dalam beberapa bulan mendatang.
Cameron mengatakan ingin mengirim pesan yang jelas kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad bahwa UE tidak mengesampingkan pilihan aksi apa pun.
”Saya ingin kita bekerja sama dengan pihak oposisi sehingga kita bisa melihat transisi (kekuasaan) secepat mungkin di Suriah. Memang tidak ada cara yang mudah, tetapi berdiam diri dan sikap masa bodoh sama sekali bukan pilihan,” kata PM Inggris itu.
Kanselir Jerman Angela Merkel setuju bahwa transisi politik di Suriah harus segera dilakukan. Namun, dia memperingatkan UE untuk tidak buru-buru mencabut embargo senjata terhadap Suriah.
”Kami yakin harus ada perubahan politik di Suriah, bahwa masa depan Suriah adalah tanpa Assad. (Namun) jika perubahan kekuasaan dan kepergian Assad itu terjadi, harus ada (jaminan) penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perlindungan terhadap kelompok minoritas (di Suriah),” ujar Merkel.
Pernyataan sikap UE ini disampaikan sehari setelah muncul kabar dari Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengenai penggunaan rudal-rudal Scud untuk pertama kalinya oleh pasukan Suriah guna menyerang pasukan oposisi. Sebelumnya, AS dan 130 negara yang tergabung dalam kelompok Sahabat Suriah juga menyatakan pengakuan atas aliansi oposisi Koalisi Nasional (NC) Suriah sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Suriah di dunia internasional.
Semua itu menjadi bagian dari gerakan bersama dunia internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap rezim Presiden Assad guna mengakhiri konflik berkepanjangan di Suriah. Lebih dari 42.000 orang tewas sejak konflik pecah 21 bulan lalu. Hingga saat ini 100-200 orang tewas setiap hari.
Pada hari yang sama, dua negara anggota NATO, yakni AS dan Jerman, menyatakan siap mengirim rudal Patriot ke perbatasan antara Turki dan Suriah.
Juru bicara NATO, Oana Lungescu, menyatakan, pemasangan rudal Patriot di wilayah Turki itu murni bersifat defensif, untuk melindungi sesama anggota NATO dari ancaman serangan udara dari Suriah. Turki, yang bergabung dengan NATO sejak tahun 1952, meminta bantuan rudal Patriot karena khawatir menjadi sasaran rudal berhulu ledak senjata kimia dari Suriah.
Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, Jumat, menandatangani perintah penempatan dua baterai rudal antirudal Patriot dan 400 tentara AS di kawasan perbatasan Turki. Juru bicara Pentagon, George Little, menyatakan, pengiriman rudal dan personel operatornya ke Turki akan dilakukan dalam beberapa pekan mendatang.
Di Berlin, Parlemen Jerman menyetujui rencana pengiriman dua baterai rudal Patriot dan 400 tentara Jerman ke Turki. Mereka akan ditempatkan di posisi sekitar 120 kilometer sebelah utara perbatasan dengan Suriah hingga 31 Januari 2014.
Satu anggota NATO lagi, Belanda, juga akan mengirimkan dua baterai rudal Patriot ke Turki. AS, Jerman, dan Belanda adalah anggota NATO yang sudah memiliki generasi termodern rudal Patriot, yakni Patriot Advanced Capability (PAC) 3.
Di Moskwa, Pemerintah Rusia membantah pemberitaan media, Kamis lalu. Berita tersebut berisi kutipan pernyataan Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov yang mengakui bahwa kemenangan pasukan oposisi atas rezim Assad di Suriah ”tidak bisa dikesampingkan lagi”.
Pernyataan itu, yang dikutip kata demi kata oleh tiga kantor berita Rusia, yakni RIA Novosti, ITAR-Tass, dan Interfax, dianggap sebagai pengakuan pertama Rusia akan kemungkinan kejatuhan rezim Assad.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Alexander Lukashevich, menegaskan, Bogdanov tak pernah mengeluarkan pernyataan itu atau diwawancara media mana pun. Ia menegaskan, sikap Rusia terkait Suriah tak akan berubah.(Reuters/AFP/AP/DHF)