Papua Butuh Sosok Pemimpin seperti Jokowi

Kompas.com - 17/12/2012, 11:44 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com - Tokoh Pemuda Mimika, Decky Mirino mengungkapkan Provinsi Papua saat ini membutuhkan sosok pemimpin seperti Gubernur DKI Jakarta, Jokowi yang dekat dengan rakyat dan tanggap terhadap berbagai masalah yang dihadapi warganya.

Berbicara kepada Antara di Timika, Senin (17/12/2012), Decky Mirino mengatakan, sosok pemimpin seperti Jokowi itulah yang dibutuhkan untuk membangun Papua yang masih terkebelakang dalam segala hal.

"Pemimpin seperti Jokowi itu yang dibutuhkan Papua saat ini. Dia tidak pernah memberi janji dan mengiming-imingkan sesuatu kepada rakyat, tapi dia punya hati untuk turun ke tengah rakyat dan merasakan langsung apa yang rakyat butuhkan," kata Decky.

Meski sulit untuk mendapatkan sosok pemimpin seperti Jokowi di Papua, Decky berharap enam pasang calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) Papua periode 2013-2018 yang akan bertarung dalam Pilkada tanggal 29 Januari 2013 bisa meniru pola kepemimpinan Jokowi.

Decky mengatakan, orang Papua saat ini tidak lagi hidup primitif dan lebih dewasa dalam menyikapi berbagai isu baik politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Para pemimpin yang ikut dalam bursa Pilgub Papua, katanya, tidak perlu mendikte rakyat dan membujuk atau merayu dengan janji-janji manis, gula-gula politik, apalagi bagi-bagi uang.

"Para calon gubernur dan wagub Papua harus bisa mengukur diri mereka sejauh mana selama ini mereka berbuat untuk rakyat. Apakah selama ini rakyat di daerah yang mereka pimpin sudah puas dengan karya yang mereka kerjakan atau justru sebaliknya rakyat sesungguhnya sudah tidak simpatik dan memiliki harapan terhadap mereka," tutur Decky.

Menurut dia, panggilan untuk menjadi seorang pemimpin bukan semata karena memiliki harta dan uang banyak atau karena dukungan partai politik, tetapi karena memiliki hati untuk mau melayani rakyat dengan berbagai risiko.

"Pilkada DKI Jakarta baru-baru ini sesungguhnya telah memberikan pelajaran politik yang sangat penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara bahwa kekuatan uang dan dukungan parpol tidak menjadi ukuran," kata Decky.

Ia berharap rakyat Papua juga bisa memetik contoh dan pelajaran dari Pilkada DKI Jakarta sehingga rakyat Papua bisa mendapatkan secercah harapan dari sosok pemimpin yang akan datang di tengah situasi yang masih kelam hingga saat ini.

Pekan lalu KPU Papua telah menetapkan enam pasangan cagub-cawagub yang bakal mengikuti Pilgub pada 29 Januari 2013. Ke enam pasangan dimaksud yakni pasangan Lukas Enembe-Klemen Tinal, MR Kambu-Blasius Pakage, Habel M Suwae-Yop Kogoya, Alek Hesegem-Marthen Kayoi, Welington Wenda-Waynand Watori dan Noak Nawipa-Jhon Wob.

Pada kesempatan yang sama KPU Papua menyatakan tidak mengakomodasi tiga pasangan yakni pasangan Barnabas Suebu-John Tabo, pasangan John Karubaba-Willy Magai dan pasangan Yan Yembise-H Bonai.

Berita terkait, baca :

100 HARI JOKOWI-BASUKI

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau